Jangan Anggap Remeh ILT

Infectious laryngotracheitis (ILT) adalah penyakit infeksi virus yang menyerang saluran pernapasan ayam. Penyakit ini bisa menyebar dengan cepat antar ayam, bahkan bisa sampai menimbulkan kematian. ILT memang selama ini jarang terjadi, namun jika menyerang akan cukup merepotkan. Mengapa demikian? Karena virus ILT menimbulkan bahaya laten, bisa seenak-nya datang lalu meradang dan kemudian menyerang peternakan ayam secara berulang-ulang. Dari data yang diperoleh tim Technical Service Medion (2010) diketahui bahwa kasus ILT yang terjadi di peternakan ayam petelur sebesar 3,09% dari total 1807 kasus penyakit ayam yang terjadi. Sedangkan pada ayam pedaging, sampai saat ini kejadian kasus ILT masih sangat jarang ditemui. Bagaimana penyakit ini bisa menginfeksi dan bagaimana pula cara mengontrol dan mencegahnya, akan coba dibahas dalam artikel utama kali ini.
Tabel 1. Persentase Kejadian Kasus ILT pada Ayam Petelur
Sumber : Data Technical Service Medion, 2010

Kejadian Penyakit ILT
Penyakit ILT pertama kali ditemukan tahun 1924 di Amerika. Di Indonesia sendiri, sampai sekarang penyakit ini sudah ditemukan pada beberapa peternakan ayam, khususnya ayam petelur seperti di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Bali.
Kejadian ILT lebih sering ditemukan pada ayam petelur dibandingkan dengan ayam pedaging. Hal tersebut terkait dengan umur pemeliharaan ayam pedaging yang relatif pendek. Meskipun hospes primer virus ILT adalah ayam dari segala umur namun ayam umur 7-22 minggu lebih sensitif. Dari data yang diperoleh tim Technical Service Medion dilaporkan bahwa ILT sering meyerang ayam petelur pada umur < 22 minggu.
Tabel 2. Umur Serangan ILT pada Ayam Petelur
Sumber : Data Technical Service Medion, 2010

Defisiensi vitamin A, kondisi stres dan kadar amonia yang tinggi dalam kandang bisa mendukung timbulnya kasus ILT yang lebih berat. Faktor lain seperti masuknya bibit pullet yang sebelumnya pernah divaksin ILT ke wilayah peternakan bebas ILT dan status carrier dari ayam yang pernah terserang ILT dalam waktu lama, bisa menjadi sumber infeksi ILT. Penyakit ILT bisa berkomplikasi dengan agen penyakit lain, misalnya CRD dan korisa (data Technical Service Medion, 2010).

Karakteristik Virus ILT
ILT disebabkan oleh Herpes virus, yang termasuk ke dalam famili Herpes viridae dan subfamili Alphaherpesvirinae. Dikenal hanya satu serotipe tetapi mempunyai virulensi yang bermacam-macam. Virus ILT memiliki persistensi (daya tahan) yang cukup kuat dibanding virus lain seperti virus ND.
Ketahanan virus ILT dalam tubuh ayam akan membuat ayam tersebut sebagai carrier dan menjadi penyebab mengapa kasus ILT dapat ditularkan secara periodik dalam suatu peternakan atau daerah. Virus ILT dapat bertahan hidup di dalam lendir trakea selama 10-100 hari dengan suhu antara 13-230C (Jordan, 1966). Meskipun demikian, virus ILT ternyata sensitif terhadap agen lipolitik, panas dan berbagai jenis desinfektan. Menurut Bagus (2000), virus ILT sangat peka dengan desinfektan yang mengandung senyawa pelarut lemak (seperti Neo Antisep, Formades dan Sporades). Virus ILT dapat bertahan hingga 100 hari jika terlindung oleh bahan organik seperti feses atau hasil sekresi saluran pernapasan. Virus ini akan inaktif dalam waktu 10-15 menit pada suhu 550C dan akan mati dalam waktu 48 jam pada suhu 350C.

Sel epitelium trakea yang mengelupas akibat infeksi virus ILT
Sumber : www.worldpoultry.netanonymous
Virus ILT lebih suka tinggal pada sel epitelium batang tenggorok (trakea). Itulah sebabnya mengapa virus ini mempunyai konsentrasi yang sangat tinggi pada permukaan trakea ayam yang terinfeksi secara alamiah atau pada ayam yang pernah divaksinasi dengan vaksin ILT (Bagus, 2000).

Bagaimana ILT Menular?
Virus ILT terutama ditemukan dalam eksudat yang berasal dari hidung, trakea (saluran pernapasan) dan conjunctiva. Pintu masuk virus ILT yang alami yaitu melalui saluran pernapasan bagian atas dan mata (okuler). Infeksi melalui oral dapat pula terjadi, namun rute ini tetap membutuhkan kontak antara virus ILT dengan trakea atau conjunctiva agar virus bisa menginfeksi.

Eksudat kental bercampur darah sebagai salah satu agen penular ILT
Sumber :anonymous

ILT tidak ditularkan secara vertikal. Penularan hanya terjadi secara horizontal, yaitu secara kontak langsung maupun tidak langsung dengan ayam yang terinfeksi atau melalui peralatan peternakan (seperti peti telur, egg tray, alat vaksinasi, tempat ransum/minum dll) yang terkontaminasi virus ILT. Hewan liar seperti burung dan tikus juga bisa bertindak sebagai vektor dari penyakit ini.
Penularan yang paling umum berasal dari eksudat kental saluran pernapasan atas atau selaput lendir mata. Penularan virus melalui angin (airborne) belum pernah dilaporkan terjadi. Itulah sebabnya mengapa kasus ILT tidak pernah dilaporkan dalam bentuk wabah, kejadiannya pun hanyalah bersifat sporadik pada suatu lokasi atau area tertentu saja. Jika terjadi ledakan kasus ILT dalam suatu populasi ayam, maka sebagian besar ayam yang masih bertahan hidup akan bertindak sebagai carrier.
Ayam sakit yang bertahan hidup akan mengeluarkan virus ILT dalam jumlah yang banyak dan merupakan sumber penularan penyakit yang sangat penting, terutama pada stadium awal dari infeksi ketika tingkat replikasi virus masih tinggi sekali. Jika ayam-ayam tersebut dicampur dengan ayam yang belum terinfeksi maka penularan penyakit akan terjadi dengan mudah.

Manifestasi Penyakit ILT
Pada infeksi alami, gejala klinis ILT biasanya baru terlihat dalam rentang waktu 6-12 hari. Menurut Lister (1997), ada dua bentuk manifestasi serangan ILT pada ayam, yaitu :
  • Bentuk akut
Ayam yang mengalami infeksi akut akan menunjukkan kesulitan bernapas (dyspnea) disertai suara ngorok dan batuk. Sumbatan trakea akibat adanya eksudat kental akan menyebabkan ayam bernapas dengan mulut terbuka sambil menjulurkan lehernya. Pada sejumlah ayam dapat pula ditemukan adanya leleran kental bercampur darah dari hidung atau mulut dan adanya cairan berbusa pada mata. Lama proses penyakit ILT menjadi bentuk akut biasanya 7-14 hari. Angka kematian mencapai 5-70%, biasanya berkisar 10-20% dengan angka kesakitan 90-100%. Kematian dapat disebabkan oleh asphyxia (kekurangan O2) akibat sumbatan pada trakea.
Pada ayam petelur yang dipelihara pada flok dengan berbagai macam umur, saat awal infeksi, virus ILT hanya akan menginfeksi beberapa ayam saja sedangkan sisanya akan terinfeksi dalam waktu 10-12 hari kemudian. Ayam yang sembuh akan langsung bertindak sebagai carrier.

Ayam ngorok, batuk dan sulit bernapas
Sumber :Dok. Medion

Lendir kental yang menyumbat saluran pernapasan ayam
Sumber :anonymous
  • Bentuk subakut (kronis)
Bentuk kronis adalah bentuk serangan ILT yang berjalan lambat, ditandai oleh gejala ayam lesu, mata berair, gangguan pernapasan yang ringan (batuk ringan), conjunctiva kemerahan, kebengkakan sinus infraorbitalis, leleran dari hidung yang terus-menerus serta penurunan produksi telur. Bentuk ini juga ditandai dengan adanya material seperti keju pada permukaan trakea dan laryng.
Tingkat kematian ayam biasanya tidak terlalu tinggi, namun kondisi ayam yang tidak optimal sangat berpotensi menyebarkan virus ILT ke lingkungannya. Pada peternakan ayam yang menganut sistem “multi age”, tindakan kontrol infeksi ILT bentuk ini umumnya relatif sulit dilakukan.

Terbentuk massa seperti keju di trakea
Sumber :anonymous

ILT akut kadang terlihat adanya cairan berbusa pada kantung mata
Sumber :www.kashvet.org

Diagnosa Banding ILT
Dalam melakukan diagnosa penyakit, tidak dapat hanya dilihat dari satu gejala klinis atau satu perubahan patologi anatomi saja karena terdapat beberapa penyakit yang memiliki gejala klinis yang hampir mirip. Oleh karena itu, dalam mendiagnosa diperlukan beberapa kumpulan sejarah penyakit, gejala klinis dan perubahan patologi anatomi. Akan lebih meyakinkan lagi apabila diagnosa didukung dengan pemeriksaan uji laboratorium.
Adanya perdarahan pada trakea merupakan gejala yang mirip dengan penyakit ND, AI maupun IB. Adanya gangguan pada pernapasan sering dikelirukan dengan kejadian CRD maupun korisa. Pada kasus ILT, perdarahan trakea yang lebih spesifik disertai pula dengan adanya lendir merah kental yang berasal dari sel-sel trakea yang mengelupas.

Perdarahan pada trakea
Sumber :partnersah.vet.cornell.edu
Program Vaksinasi ILT
Vaksinasi ILT dilakukan menggunakan vaksin aktif dan berfungsi merangsang terbentuknya kekebalan ayam. Lakukan vaksinasi ILT menggunakan Medivac ILT untuk pencegahan. Pemberian vaksin ILT dapat diaplikasikan melalui tetes mata, tetes hidung, air minum dan spray (Samberg et al., 1971). Berikut program vaksinasi ILT yang bisa diterapkan di peternakan (Tabel 3 dan 4). Program ini hanya sebagai petunjuk umum dan dapat disesuaikan dengan kondisi di peternakan. Program vaksinasi juga bisa ditentukan berdasarkan sejarah kasus serangan ILT pada pemeliharaan sebelumnya yaitu 2-3 minggu sebelum terjadi outbreak. Khusus untuk ayam pedaging, meskipun kasus ILT sangat jarang terjadi, vaksinasi tetap harus dilakukan pada peternakan ayam pedaging yang sebelumnya pernah diserang ILT.
Tabel 3. Program Vaksinasi ILT pada Ayam Pedaging dan Pejantan
Tabel 4. Program Vaksinasi ILT pada Ayam Petelur dan Pembibit
Tabel 5. Persentase (%) Ayam yang Menunjukkan Reaksi Post Vaksinasi ILT
Keterangan : Pada hari ke-1 dan ke-2 post vaksinasi, reaksi belum muncul
Bagian Research and Development (R&D) Medion (2007) telah melakukan trial uji keamanan vaksinasi ILT menggunakan Medivac ILT yang dibandingkan dengan vaksin lain yang sejenis. Trial dilakukan pada ayam petelur komersial di kandang SPF (Spesific Pathogen Free) yang divaksin ILT pada umur 42 hari melalui tetes mata. Hasil trial dapat dilihat pada Tabel 5. Dari hasil trial dapat disimpulkan bahwa vaksinasi ILT menggunakan Medivac ILT menghasilkan reaksi post vaksinasi yang lebih ringan dibanding produk pesaing sejenis.

Reaksi Post Vaksinasi
Terjadinya reaksi post vaksinasi setelah vaksinasi ILT adalah normal karena virus ILT mengalami multiplikasi pada jaringan tubuh ayam yang disukai yaitu di laryng, trakea dan kelenjar Harderian mata. Proses multiplikasi tersebut melibatkan proses teralokasinya cadangan gizi dan energi tubuh ayam untuk dimanfaatkan mikroba vaksin membentuk antibodi.
Reaksi post vaksinasi ILT ini akan hilang dengan sendirinya dalam waktu 7-10 hari setelah vaksinasi. Apabila terjadi reaksi post vaksinasi dalam waktu lebih lama atau gejala klinis lebih parah bahkan muncul kematian, hal ini merupakan indikasi bahwa telah terjadi reaksi post vaksinasi yang berlebihan.

Reaksi Post Vaksinasi yang Berlebihan
Fulton et al.,(2000) menyatakan bahwa tingkat reaksi post vaksinasi yang berlebihan berpengaruh terhadap tingkat pembentukan antibodi atau kekebalan yang dihasilkan. Untuk meminimalkan timbulnya reaksi post vaksinasi yang berlebihan, maka hal yang harus dilakukan diantaranya :
  • Perhatikan keseragaman dosis vaksin yang masuk
Pelaksanaan vaksinasi ILT harus memperhatikan keseragaman dosis vaksin yang masuk (pada ayam yang divaksin dalam waktu bersamaan) karena dosis yang tidak tepat dan tidak seragam (tidak semua ayam mendapatkan 1 dosis penuh) berpotensi menyebabkan terjadinya rolling reaction. Setelah 5-10 hari post vaksinasi, ayam akan menyebarkan virus ke lingkungan sekitarnya (viral shedding/ekskresi virus). Sehingga apabila banyak ayam mendapat dosis vaksin kurang maka ayam tersebut akan terinfeksi oleh virus hasil multiplikasi dari ayam yang mendapat dosis vaksin sempurna. Kejadian inilah yang disebut sebagai rolling reaction.
Kejadian rolling reaction akan berjalan dengan lambat dan terus-menerus, namun kejadian tersebut bisa berlangsung cepat jika ayam berada dalam kondisi stres, misalnya stres akibat pengangkutan, perlakuan kandang yang tidak benar, stres menjelang puncak produksi telur atau ketika terjadi perubahan cuaca yang sangat ekstrim. Untuk mendapatkan hasil vaksinasi ILT yang optimal, maka pastikan dosis vaksin yang masuk ke dalam tubuh ayam sudah benar dan seragam.
  • Vaksinasi tidak diberikan pada ayam yang sedang stres atau sakit misalnya CRD atau penyakit lain yang bersifat immunosuppressive seperti Gumboro
  • Lakukan vaksinasi ILT ke seluruh ayam pada satu flok/kandang secara serentak/ bersamaan dalam satu hari. Hal ini dilakukan juga untuk mencegah terjadinya rolling reaction
  • Hindari pemberian vaksin ILT aktif bersama-sama atau berdekatan dengan pemberian vaksin aktif lain, khususnya vaksin yang target organnya di saluran pernapasan seperti ND dan IB, karena bisa meningkatkan reaksi post vaksinasi ILT. Sebagai contoh, vaksinasi ND dan IB aktif yang dilakukan 1-2 minggu sebelum vaksinasi ILT atau 8 hari setelah vaksinasi ILT akan menyebabkan reaksi post vaksinasi yang lebih kuat
  • Kurangi konsentrasi debu dan amonia dalam kandang. Konsentrasi debu dan amonia dalam kandang yang tinggi juga akan semakin memperburuk kondisi ayam yang sedang mengalami reaksi post vaksinasi

Kontrol dan Pencegahan ILT
Vaksinasi ILT merupakan langkah yang paling efektif untuk mencegah masuknya virus ILT ke peternakan. Meski demikian, tindakan vaksinasi harus tetap disertai pula dengan penerapan biosekuriti yang ketat dan disiplin agar outbreak ILT benar-benar bisa dicegah. Tindakan biosekuriti yang bisa diterapkan antara lain:
  • Mengurangi populasi virus ILT di sekitar kandang
Dalam mengurangi bibit penyakit (virus ILT,red) yang ada di sekitar ayam maka langkah yang dapat ditempuh adalah dengan istirahat kandang, sanitasi dan desinfeksi kandang beserta peralatannya. Istirahat kandang minimal selama 2 minggu dihitung setelah kandang sudah dalam keadaan bersih dan didesinfeksi.
Tujuan dari istirahat kandang ialah memutus siklus perkembangbiakan virus atau menginaktivasi kemampuan virus dalam menginfeksi. Selain dengan istirahat kandang, perlu didukung dengan sanitasi dan desinfeksi secara ketat. Desinfeksi kandang kosong bisa dilakukan dengan menggunakan Sporades atau Formades. Lakukan pula penyemprotan peralatan kandang baik tempat ransum maupun tempat minum menggunakan Antisep, Neo Antisep atau Medisep.

Lakukan istirahat kandang minimal 14 hari
Sumber :Dok. Medion
  • Mengatur lalu lintas karyawan, pekerja, tamu, kendaraan, hewan peliharaan maupun hewan liar yang bisa menjadi sumber penularan
  • Pemberantasan vektor pembawa penyakit seperti tikus dengan menggunakan insektisida. Lakukan kontrol yang teratur dan terprogram terhadap rodentia yang berkeliaran di kandang. Berdasarkan pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa vektor tersebut merupakan sumber penularan yang cukup tinggi
  • Hindari kontaminasi ransum dan air minum, terutama dengan eksudat kental/ lendir yang berasal dari ayam yang sakit
  • Buang bangkai ayam yang mati akibat terinfeksi ILT akut
  • Pemeliharaan sistem all in all out untuk menghindari penularan dari ayam tua ke ayam muda dan memutus siklus hidup bakteri di lokasi peternakan
  • Jangan satukan pemeliharaan ayam dengan unggas/ternak lain
  • Lakukan vaksinasi ILT untuk daerah endemik atau daerah yang memiliki sejarah ledakan kasus ILT
  • Penanganan ayam ILT dengan benar melalui pengobatan secara tuntas atau memberikan obat pada waktu tertentu terutama saat perubahan cuaca. Selain itu, lakukan pengafkiran pada ayam yang secara ekonomis tidak menguntungkan
Lalu, jika tetap terjadi outbreak ILT meskipun program vaksinasi ILT telah dilakukan maka tindakan yang bisa dilakukan ialah:
  • Isolasi ayam yang sakit
  • Buang bangkai ayam segera dan sejauh mungkin dari lingkungan kandang
  • Berikan antibiotik seperti Ampicol, Neo Meditril, Proxan-C, Proxan-S atau Therapy untuk mengobati infeksi sekunder oleh bakteri
  • Pemberian vitamin, seperti yang terkandung dalam Vita Stress atau Vita Strong yang akan membantu meningkatkan stamina tubuh ayam. Vitamin akan membantu proses metabolisme berlangsung secara optimal sehingga stamina tubuh optimal dan proses kesembuhan penyakit menjadi lebih cepat
  • Lakukan desinfeksi/sanitasi kandang, peralatan dan air minum menggunakan Antisep, Neo Antisep atau Medisep untuk mencegah meluasnya infeksi pada kandang atau flok lainnya

Desinfeksi kandang sebagai upaya mengurangi konsentrasi virus ILT
Sumber :Dok. Medion

Antisep, Neo Antisep dan Medisep merupakan produk-produk antiseptika Medion
Sumber :Dok. Medion
  • Lakukan revaksinasi ILT saat kasus masih ringan dan pada ayam yang belum terinfeksi

Medivac ILT, vaksin ILT produksi Medion
Sumber :Dok. Medion
Kasus ILT memang bukan kasus penyakit yang sering muncul dan terdengar di peternakan, namun cukup membuat peternak kewalahan ketika ayamnya sudah mulai terserang. Oleh karena itu, jangan pernah anggap remeh ILT.

Info Medion Edisi Juli 2011

Solusi Tepat Atasi Koksidiosis

Siapa peternak yang tidak kenal dengan penyakit berak darah. Penyakit yang satu ini memang kemunculannya di farm layer maupun broiler tidak sesering penyakit lain seperti ngorok (CRD) ataupun korisa. Dari data lapangan Medion di tahun 2012, bahwa berak darah atau yang secara ilmiah disebut koksidiosis hanya berada di urutan ke-9 dan ke-7 rangking penyakit yang menyerang ayam layer dan broiler. Meski demikian, bukan berarti peternak bisa menganggap enteng karena penyakit ini dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup tinggi.
Koksidiosis merupakan penyakit yang menyebabkan kerusakan di saluran percernaan, terutama di usus halus dan sekum. Hal ini akhirnya berdampak terhadap proses pencernaan dan penyerapan zat nutrisi yang tidak optimal, sehingga berujung menimbulkan kerugian berupa pertumbuhan berat badan rendah, penurunan produksi telur, serta kematian (mortalitas) yang tinggi hingga mencapai 80-90%. Selain itu, koksidiosis juga dapat menimbulkan efek imunosupresif yang menjadikan ayam rentan terhadap infeksi penyakit lainnya.

Penyebabnya: Parasit Eimeria sp.
Penyakit koksidiosis disebabkan oleh berbagai parasit protozoa yang termasuk dalam genus Eimeria. Saat ini diketahui ada 9 spesies Eimeria yang menyerang ayam, dengan 6 spesies di antaranya bersifat patogenik (menimbulkan sakit). Keenam spesies itu adalah E. tenella, E. necratix, E. maxima, E. acervulina, E. brunetti dan E. mitis.
Setiap spesies Eimeria mempunyai predileksi (tempat kesukaan, red) tertentu dalam usus ayam, sehingga luka yang ditimbulkan juga akan berbeda-beda. Berikut rinciannya:
  • E. tenella menyerang khusus di usus buntu (sekum) hingga menyebabkan perdarahan di bagian usus tersebut. Ditemukannya feses berdarah mayoritas disebabkan oleh serangan E. tenella ini.
  • E. necratix dan E. maxima menyerang bagian tengah usus halus (jejunum) hingga muncul bintik-bintik putih atau hitam di sekitar permukaan usus. Pada kasus yang parah bisa terjadi penebalan dan penggelembungan dinding usus, disertai adanya lendir bercampur darah.
  • E. acervulina menyerang bagian atas usus halus (duodenum) hingga menyebabkan pendarahan.
  • E. brunetti menyerang usus halus bagian bawah (ileum), rektum, sekum dan kloaka.
  • E. mitis menyerang hampir semua bagian usus halus.

Siklus Hidup Eimeria sp.
Infeksi koksidiosis sendiri berawal dari tertelannya ookista (semacam telur) Eimeria yang telah mengalami sporulasi (menghasilkan spora). Ookista ini dapat ditularkan secara mekanik melalui anak kandang, peralatan kandang, ransum, air minum atau litter yang tercemar.
Siklus hidup dari Eimeria secara umum terdiri dari dua tahap, yaitu tahap eksogenous dan endogenous.



(1) Tahap eksogenous (di luar tubuh ayam)

Ayam yang sebelumnya terinfeksi koksidiosis mengeluarkan ookista ke lingkungan luar bersama-sama feses. Ookista yang keluar, kemudian bersporulasi menghasilkan sporozoit dan berubah bentuk menjadi infektif (mampu menginfeksi). Lamanya waktu ookista bersporulasi berbeda-beda antar spesies Eimeria seperti yang tercantum pada Tabel 1.

Di lingkungan, ookista sporulasi mampu bertahan sekitar 48 jam pada suhu 25º-28ºC atau lebih lama tergantung dari kondisi suhu, kelembaban dan ketersediaan oksigen dalam kandang. Jika suhu di dalam kandang rendah dan kelembabannya tinggi, atau kondisi litter sangat lembab, maka ookista yang telah bersporulasi dapat bertahan di lingkungan luar hingga berbulan-bulan.

(2) Tahap endogenous (di dalam tubuh ayam)
Tahap ini dimulai ketika ookista sporulasi tidak sengaja tertelan dan masuk ke dalam tubuh ayam. Ransum dan air minum yang terkontaminasi ookista dalam feses bisa menjadi medianya. Di dalam laryng (batang tenggorokan), dinding terluar dari ookista sporulasi akan pecah mengeluarkan sporokista. Sporokista yang berhasil mencapai usus halus atau sekum, akan pecah oleh kerja enzim tripsin dan garam empedu hingga keluarlah sporozoit infektif.
Selanjutnya sporozoit akan mulai menembus sel-sel epitel usus halus/sekum dan berkembang menjadi schizonts berisi merozoit. Ketika matang, schizont akan pecah dan melepaskan merozoit ke dalam lumen usus. Dalam satu schizont bisa berisi ratusan merozoit. Merozoit inilah yang akan membelah dan memperbanyak diri (reproduksi aseksual) serta menembus sel usus lainnya secara terus-menerus (siklik). Karena pembelahan diri ini bersifat siklik, maka sejumlah besar sel usus akan dihancurkan. Kondisi perdarahan usus yang biasa ditemukan pada kasus koksidiosis merupakan akibat dari aktivitas merozoit ini.
Setelah cukup banyak melakukan pembelahan diri, pada tahap akhir akan dihasilkan gamet jantan dan betina. Setelah cukup matang, sepasang gamet jantan dan betina ini akan melakukan reproduksi seksual hingga menghasilkan zigot. Selanjutnya, zigot akan dibungkus dengan lapisan dinding pelindung dan terbentuklah ookista. Ookista kemudian keluar dari sel epitel usus dan pada akhirnya dikeluarkan bersama-sama dengan feses ke lingkungan luar.

Demikianlah siklus Eimeria sp. Lamanya satu siklus hidup Eimeria berlangsung di dalam tubuh ayam berbeda-beda tergantung spesiesnya, namun umumnya berlangsung selama 7 hari. Pendarahan di usus halus atau sekum biasanya mulai terlihat pada hari ke-4 pasca infeksi. Pada hari ke-5 hingga 6 pendarahan akan terlihat lebih banyak dan biasanya akan disusul dengan kematian. Jika pada hari ke-5 sampai 6 ayam tidak mengalami kematian, maka hari ke-8 atau 9 akan memasuki masa penyembuhan. Meski sembuh, suatu saat ayam bisa terserang koksidiosis kembali.
Dari seluruh bahasan mengenai siklus hidup Eimeria ini, bisa kita simpulkan bahwa hanya dengan memakan satu ookista, beberapa hari kemudian ribuan ookista baru dikeluarkan ke lingkungan. Bisa dibayangkan, jika kondisi litter lembab, maka ookista akan bertahan hidup dan akhirnya menyebar serta mampu menginfeksi banyak ayam lain dengan sangat cepat. Dan bukan tidak mungkin koksidiosis akan menyerang peternakan dari tahun ke tahun.

Gejala Klinis dan Perubahan Organ Tubuh Ayam
Ayam yang terserang koksidiosis awalnya akan menampakkan gejala klinis seperti mengantuk, sayap terkulai ke bawah, bulu kasar (tidak mengkilat) dan nafsu makan rendah (anorexia). Untuk infeksi E. tenella biasanya terjadi secara akut, terjadi berak darah dan dapat menimbulkan kematian. Infeksi E. maxima menyebabkan feses mengandung eksudat kental berwarna kemerahan dan bercampur bintik-bintik darah.
Dari hasil bedah ayam yang terindikasi koksidiosis, perubahan organ tubuh yang akan ditemukan jika penyebabnya E. tenella ialah sekum membesar berisi darah atau perkejuan yang bercampur darah. Sedangkan spesies Eimeria lainnya menimbulkan kelainan berupa penebalan dinding usus yang disertai peradangan kataralis (bernanah) sampai haemorrhagis (berdarah).

Koksidiosis Menimbulkan Efek Imunosupresif
Kerugian yang umum terjadi saat serangan koksidiosis ialah terhambatnya pertumbuhan berat badan dan penurunan produksi telur. Tingkat kematian yang disebabkan koksidiosis cukup tinggi dan bisa mencapai 80-90%.
Selain itu, serangan koksidiosis juga akan menimbulkan efek imunosupresif yang menjadikan ayam rentan terhadap infeksi penyakit lainnya. Mekanisme imunosupresif akibat koksidiosis ialah:
  • Kerusakan jaringan mukosa usus menyebabkan proses pencernaan dan penyerapan zat nutrisi tidak optimal. Akibatnya terjadi defisiensi nutrisi sehingga pembentukan antibodi terganggu.
  • Peyer's patches dan caeca tonsil di mukosa usus merupakan organ kekebalan lokal di saluran pencernaan sehingga kerusakan kedua organ ini mengakibatkan ayam lebih rentan terinfeksi penyakit lainnya.
  • Di sepanjang jaringan mukosa usus terdapat jaringan limfoid penghasil antibodi (IgA), dimana IgA tersebut akan terakumulasi di dalam darah. Kerusakan mukosa usus akan mengakibatkan keluarnya plasma dan sel darah merah sehingga kadar IgA, sebagai benteng pertahananan di lapisan permukaan usus pun menurun.

Mencegah Koksidiosis
  • Memberantas ookista
Untuk mencegah koksidiosis, harus dicermati bahwa protozoa/koksidia penyebabnya memiliki siklus hidup yang panjang untuk menjadi sebuah individu Eimeria sp. yang utuh. Oleh karena itu, pengendalian paling efektif yang pertama harus dilakukan ialah memotong rantai siklus hidupnya sehingga ia tidak bisa berkembang lebih lanjut.
Berawal dari ookista yang dikeluarkan bersama dengan feses ayam, jika lingkungan sekitar lembab dan basah, ookista akan terus berkembang dan bersporulasi hingga akhirnya bisa menginfeksi ayam. Agar ookista tidak lanjut bersporulasi, peternak harus melakukan sanitasi dan desinfeksi secara ketat. Tapi sayangnya, ookista relatif tahan terhadap desinfektan yang banyak dijual di pasaran.
Tidak hanya tahan terhadap banyak desinfektan, ookista juga sulit diberantas karena ukurannya yang sangat kecil sehingga ia mudah diterbangkan oleh angin dan tersebar kemana-mana. Ookista juga mudah terbawa oleh peralatan kandang, serangga atau burung liar hingga tersebar ke wilayah lain.
Meski begitu, masih ada cara yang bisa kita gunakan untuk memberantas ookista. Cara tersebut yaitu memberikan kapur atau soda kaustik pada permukaan litter yang lembab dan basah. Kapur dan soda kaustik merupakan bahan aktif yang bersifat basa. Ketika kedua bahan tersebut larut dalam air atau media yang basah (litter basah, red), maka akan dihasilkan panas yang tinggi. Sementara, ookista tidak tahan terhadap suhu ekstrim panas > 55ºC. Ookista juga dapat mati jika berada pada kondisi suhu sangat dingin (suhu beku) dan kekeringan yang ekstrim.
  • Memperbaiki manajemen pemeliharaan ayam
  1. Perhatikan suhu, kelembaban, ventilasi, kepadatan kandang serta kualitas litter atau sekam. Dalam manajemen litter, lakukan pembolak-balikan litter untuk mencegah litter basah. Pada masa brooding, pembolak-balikkan litter dilakukan secara teratur setiap 3-4 hari sekali mulai umur 4 hari sampai umur 14 hari. Segera ganti litter yang basah dan menggumpal. Jika jumlah yang menggumpal sedikit, maka dapat dipilah dan dikeluarkan dari kandang. Namun jika jumlah litter yang menggumpal atau basah sudah banyak, lebih baik tumpuk dengan litter yang baru hingga yang menggumpal tidak tampak.
  2. Berikan ransum dengan kualitas dan kuantitas yang sesuai dengan kebutuhan ayam. Jika melakukan self mixing, hindari penggunaan tepung ikan atau pollard berlebihan karena kandungan protein yang terlalu tinggi dalam bahan pakan tersebut bisa menyebabkan feses encer dan litter cepat basah.
  • Memberikan koksidiostat
Langkah pencegahan koksidiosis selanjutnya yang dapat diterapkan ialah memberikan koksidiostat secara terus-menerus pada ransum. Pemberian koksidiostat pada ransum dimaksudkan untuk mengontrol dan menekan perkembangan koksidia sampai level rendah (tidak mengakibatkan outbreak penyakit). Contoh koksidiostat yang digunakan ialah antibiotik golongan ionofor (monensin, salinomycin, narasin, maduramycin). Beberapa pabrik pakan diketahui sudah menambahkan koksidiostat ke dalam ransum yang diproduksinya. Meski demikian, karena koksidiostat diberikan dalam waktu lama, maka perlu dilakukan rolling koksidiostat yang diberikan. Jika tidak, maka koksidia akan resiten dan koksidiostat tidak akan mempan menangkal serangan ookista di dalam tubuh ayam.

Pengobatan Koksidiosis
Ayam yang terserang koksidiosis bisa diobati dengan pemberian obat antikoksidia. Pemberian antikoksidia dimaksudkan untuk mengontrol dan menekan perkembangan Eimeria dalam tubuh ayam sehingga jumlahnya yang ada di tubuh ayam bisa ditekan dalam level rendah. Saat ini berbagai macam produk antikoksidia sudah banyak diproduksi, baik dari golongan sulfa/sulfonamide, amprolium, maupun generasi baru seperti toltrazuril. Namun yang harus benar-benar diperhatikan ialah dosis dan aturan pakai, serta peringatan yang tercantum pada label obat. Hal ini untuk mencegah resistensi spesies Eimeria. Munculnya strain Eimeria yang resisten terhadap antikoksidia dapat menimbulkan masalah besar bagi peternak. Kasus koksidiosis yang terus berulang adalah salah satu dampaknya. Sebaiknya lakukan rolling menggunakan antikoksidia dari golongan yang berbeda setiap interval 3-4 kali pengobatan.
Berikut penjelasan mengenai beberapa contoh antikoksidia yang bisa digunakan oleh peternak guna mengobati koksidiosis.
  • Sulfonamide:
    Antikoksidia yang masuk ke dalam golongan sulfonamide di antaranya sulfadiazine, sulfadimethylpirimidine, sulfaquinoxaline, sulfamonomethoxine, sulfadimethoxine, dsb. Antikoksidia golongan ini lebih efektif untuk mengatasi Eimeria yang menyerang bagian usus halus (E. acervulina, E. maxima, E. necratix, E. brunetti, E. mitis). Namun sulfaquinoxaline dan sulfadimethylpirimidine efektif juga untuk Eimeria usus buntu (E. tenella).
    Semua antikoksidia golongan sulfonamide bekerja memutus siklus hidup Eimeria yaitu dengan mengganggu proses reproduksi aseksual Eimeria. Dengan demikian, sporozoit akan dibasmi dan tidak mampu untuk memperbanyak diri. Karena hanya merusak sebagian proses siklus hidup Eimeria, maka antikoksidia golongan sulfa harus diberikan dengan sistem 3-2-3 (3 hari diberikan, 2 hari berhenti dan 3 hari diberikan lagi).
    Potensi obat sulfanamide akan meningkat 10 kali jika dikombinasikan dengan golongan diamino pyrimidine (trimetoprim, pyrimethamin). Contoh produknya ialah Coxy dan Sulfamix (sulfonamide tunggal), Antikoksi, Duoko, dan Trimezyn (sulfonamide kombinasi).
  • Thiamine antagonist:
    Salah satu antikoksidia yang termasuk ke dalam golongan thiamine antagonist adalah amprolium. Jika dikombinasikan dengan sulfaquinoxaline dapat memperluas spektrum kerja dan meningkatkan potensi membasmi Eimeria usus halus dan sekum. Mekanisme kerja dari amprolium ini sama dengan antikoksidia golongan sulfonamide, yaitu mengganggu proses reproduksi aseksual Eimeria sp. Produk yang mengandung amprolium contohnya Therapy dan Koksidex.
  • Toltrazuril:
    Toltrazuril merupakan antikoksidia golongan triazinetrione. Berbeda dengan antikoksidia sulfonamide dan amprolium, toltrazuril bekerja efektif dengan cara mengganggu fungsi mitokondria, yaitu dengan menghambat aktivitas enzim pada rantai pernapasan sel sehingga akan menyebabkan kematian pada semua tahap perkembangan sel Eimeria sp. (reproduksi seksual maupun aseksual). Contoh produk terbaru Medion yang mengandung toltrazuril adalah Toltradex.

Selain pemberian antikoksidia, tindakan lain yang harus dilakukan saat menghadapi koksidiosis di antaranya:
  1. Berikan vitamin A dan K untuk terapi supportif. Vitamin A berfungsi mempercepat kesembuhan epitel mukosa usus yang rusak. Sedangkan vitamin K akan mengurangi pendarahan yang terjadi.
  2. Jika memungkinkan, buang feses bercampur darah dari ayam yang sakit untuk menghindari ayam lain mematuknya. Hal ini karena warna merah pada feses akan menarik perhatian ayam lain untuk mematuk dan terjadilah proses penularan penyakit koksidiosis.
  3. Lakukan manajemen penanganan litter dengan baik agar litter kering.
  4. Hindari pemeliharaan ayam dengan kepadatan tinggi, maksimal 8 ekor/m2 untuk kandang postal.
  5. Saat persiapan kandang, terutama untuk kandang postal, lakukan pengapuran lantai untuk mengurangi jumlah ookista yang ada.

Toltradex, Antikoksidia dengan Banyak Keunggulan
Toltradex merupakan sediaan larutan oral yang mengandung toltrazuril 5%, yang tersedia dalam bentuk larutan sehingga mudah diberikan lewat air minum. Berbeda dengan golongan sulfonamide, Toltradex cukup diberikan selama 2 hari berturut-turut untuk mengatasi koksidia, lebih cepat dan efisien.
Toltradex mampu menyembuhkan (menurunkan % morbiditas/angka kesakitan) koksidiosis pada ayam lebih baik dibanding produk sejenis dan kontrol. Hal ini dibuktikan melalui trial R&D Medion (2013) menggunakan ayam broiler yang terinfeksi koksidiosis. Ayam tersebut kemudian diberi Toltradex dosis 0,14 ml/kg berat badan melalui air minum selama 2 hari berturut-turut. Hasilnya sebagai berikut:
  • Grafik 1 menunjukkan proses penyembuhan koksidiosis berdasarkan jumlah ookista dalam feses. Toltradex mampu menurunkan 100% ookista dalam feses pada hari ke-7 post pengobatan, paling tinggi dibanding produk sejenis serta kontrol (ayam sakit koksidiosis dan tidak diobati).


    Artinya, Eimeria sp. di dalam tubuh ayam dapat dibasmi secara optimal dan tidak berkembang menghasilkan ookista, sehingga ookista tidak ditemukan lagi dalam feses.
  • Pada hari ke-7 post pengobatan dengan Toltradex, tingkat kesembuhan ayam mencapai 84,8%. Kondisi usus dan sekum (usus buntu) ayam juga membaik, ditandai dengan luka dan perdarahan yang sudah tidak terlalu tampak jelas.

Keunggulan lain dari Toltradex ialah zat aktif toltrazuril yang terkandung dalam Toltradex aman dikonsumsi sebagai obat dan tidak menurunkan nafsu makan ternak, baik saat pengobatan maupun setelah pengobatan, sehingga tidak mengganggu produktivitas ternak. Hal ini dibuktikan oleh trial R&D Medion (2013) pada Grafik 2. Beberapa kelompok ayam broiler yang terinfeksi koksidiosis diberi Toltradex, selama 2 hari berturut-turut (Hari ke-1 dan ke-2).


Terjadinya penyakit koksidiosis selama ini umumnya dipicu oleh pelaksanaan kebersihan dan sanitasi kandang yang masih rendah. Oleh karena itu, solusi tepat yang bisa diambil peternak ialah dengan memberikan antikoksidia yang sesuai, menerapkan perbaikan manajemen, serta memperketat biosecurity di peternakan. Salam.


Info Medion Edisi Agustus 2013

Immunosuppressive

Immunosuppression atau imunosupresi dapat dimaknai sebagai suatu perubahan reaksi kekebalan dalam keadaan negatif sehingga respon tubuh ternak terhadap masuknya benda asing menjadi berkurang atau bisa menjadi pemicu serangan berbagai penyakit ke dalam tubuh ternak. Ketika imunosupresi menyerang ayam maka akan menyebabkan 2 kerugian sekaligus, yaitu kerugian karena faktor/agen immunosuppressive yang disebut immunosuppressant dan agen penyakit lainnya yang menjadi lebih mudah masuk ke dalam tubuh ayam. Kondisi ayam ini dapat diibaratkan, ayam sudah “jatuh” masih harus menanggung rasa sakit karena tertimpa “tangga”. Meskipun demikian, perhatian peternak terhadap penyakit imunosupresi tidaklah sebesar pada penyakit dengan tingkat kematian yang tinggi. Oleh karena itu, dengan artikel ini semoga kita semakin paham dan mengerti tentang imunosupresi.
 
Mekanisme Imunosupresi
Terjadinya imunosupresi akan ditunjukkan dengan adanya hambatan atau gangguan pada satu atau lebih komponen sistem kekebalan tubuh. Mekanisme terjadinya imunosupresi biasanya terjadi melalui 3 mekanisme yaitu :
  • Secara langsung mengganggu fungsi sistem kekebalan atau merusak organ dan kelenjar limfoid primer (bursa Fabricius dan thymus) sekaligus organ/kelenjar limfoid sekunder (limfa, proventrikulus, seka tonsil dll). Mekanisme ini biasanya disebabkan serangan Gumboro, Marek’s, reovirus, limfoid leukosis dan aspergilosis
  • Merusak atau mengganggu fungsi dan sistem pertahanan yang bersifat sekunder (limfa, proventrikulus, seka tonsil, sel harderian) karena serangan penyakit swolen head syndrome, kolera, ILT dan snot (korisa)
  • Menguras zat kebal (antibodi) tubuh yang telah terbentuk dari hasil vaksinasi, yang disebabkan serangan koksidiosis

Bursa Fabricius (salah satu organ limfoid primer) yang mengecil (atropi) akibat terinfeksi virus Gumboro merupakan salah satu gejala spesifik adanya kasus imunosupresi
Secara umum adanya imunosupresi ditunjukkan dari adanya :
  • Gangguan sistem kekebalan tubuh, seperti adanya kegagalan vaksinasi (meskipun vaksin yang digunakan berkualitas dan tata laksana vaksinasi telah dilakukan dengan tepat), reaksi post vaksinasi meningkat (contoh ayam nampak bersin-bersin dan muncul gejala gangguan lainnya setelah vaksinasi ND), turun atau hilangnya keampuhan pengobatan bahkan meningkatnya kasus penyakit yang tidak umum, seperti gangrenous dermatitis, aplastic anemia atau inclusion body hepatitis
  • Meningkatnya penyakit yang menyerang saluran/sistem pernapasan yang diikuti infeksi sekunder oleh bakteri

Gejala spesifik atau khusus dari munculnya imunosupresi ditunjukkan dengan adanya kerusakan atau gangguan fungsi sel atau organ yang penting dalam sistem kekebalan (sistem imunologi) tubuh. Organ tubuh yang penting dalam sistem imunologi ialah bursa Fabricius dan thymus. Kerusakan kedua organ ini akan mengakibatkan menipisnya atau hilangnya sel limfoid. Selain itu, jaringan dan organ yang meliputi hati, limfa, sumsum tulang, kumpulan sel limfoid mempunyai peranan yang penting dalam memelihara respon sistem kekebalan tubuh ayam. Oleh karena itulah, saat terserang imunosupresi daya tahan tubuh ayam terhadap serangan penyakit menjadi lemah dan respon vaksinasi menjadi kurang optimal.
Secara keseluruhan, saat ayam terserang imunosupresi produktivitas ayam menjadi tidak optimal, yaitu :
  • Berat badan rendah (di bawah standar) dan pertumbuhan tidak merata
  • Produksi telur cenderung berfluktuasi dan sulit mencapai puncak produksi
  • Mortalitas cenderung tinggi bila terjadi infeksi penyakit
  • Feed conversion ratio (FCR) mengalami peningkatan

Penyebab Imunosupresi
Penyakit imunosupresi yang menyerang ayam dapat disebabkan oleh bebeberapa faktor yaitu :
1.   Agen penyakit (infeksius)
Agen penyakit yang bersifat imunosupresi antara lain marek’s, avian leukosis, Gumboro, viral arthritis, avian reticuloendotheliosis, chicken anemia dan adenovirosis.
  • Marek’s
Marek’s atau fowl paralysis, neurolymphomatosis, acute leukosis merupakan penyakit viral yang sangat menular. Penyebabnya ialah virus herpes yang memiliki struktur DNA.
Sebagai penyakit imunosupresi, virus marek’s mempunyai target utama merusak sel limfosit T pembantu (Th), sel limfosit T sitotoksik dan sebagian kecil sel limfosit B. Selain itu, terjadi pengecilan bursa Fabricius, thymus dan limpa yang merupakan pabrik sel limfosit T dan B. Kasus serangan marek’s yang berat bisa menyebabkan degenerasi sumsum tulang belakang yang menjadi awal pembentukan sel bakal bagi sel limfosit.
  • Avian leukosis
Pembengkakan bursa Fabricius akibat replikasi dan transformasi retrovirus
Seperti halnya marek’s, avian leukosis merupakan penyakit tumor yang menyebabkan kerusakan pada organ limfoid primer. Avian leukosis disebabkan infeksi virus retrovirus yang mempunyai target utama merusak sel limfosit B matang yang telah mempunyai Ig M terikat membran. Selain itu, adanya replikasi retrovirus pada bursa Fabricius dan limpa menyebabkan kedua organ limfoid ini menjadi kisut (atropi). Kerusakan kedua organ limfoid tersebut sekaligus kerusakan sel limfosit B matang akan menyebabkan respon kekebalan humoral menjadi terganggu.

  • Gumboro
Penyakit yang pertama kali terjadi di wilayah Gumboro, Delaware Amerika Serikat ini menjadikan sel limfosit B dan makrofag serta organ limfoidnya sebagai target utama infeksi. Sel limfosit B matang dan makrofag di jaringan usus menjadi sel yang terlebih dahulu terinfeksi virus Gumboro. Kemudian virus Gumboro secara sistematik menyebar sampai ke berbagai organ, terutama bursa Fabricius.

Bursa Fabricius membesar dan disertai bintik-bintik perdarahan menunjukkan adanya kerusakan jaringan yang parah sehingga respon imun humoral terganggu

Virus Gumboro yang berkembang biak (replikasi) di bursa Fabricius akan mengakibatkan rusaknya sel-sel limfosit B, terutama sel limfosit B matang, bahkan pada kasus yang parah bisa juga merusak sel B prekursor. Akibatnya proses pembentukan antibodi menjadi terhambat bahkan terhenti.
Tidak hanya sel limfosit B di bursa Fabricius yang terinfeksi virus Gumboro, makrofag juga terinfeksi. Akibatnya makrofag akan mengalami perubahan sifat yang cenderung bersifat detrimental (merugikan tubuh) seperti perdarahan berbagai jaringan dalam tubuh ayam.

  • Viral arthritis, avian reticuloendotheliosis dan chicken anemia
Sumsum tulang yang pucat dan mengalami pengecilan menjadi indikasi adanya imunosupresi akibat serangan chicken anemia agent (CAA)

Viral arthritis dan avian reticuloendotheliosis menyebabkan pengecilan dan tidak berfungsinya bursa Fabricius maupun thymus terutama pada ayam muda. Chicken anemia tidak secara spesifik merusak sel limfosit tetapi mengakibatkan pengecilan atau kisutnya sumsum tulang dan organ limfoid maka pembentukan sel awal dan sel yang berperan dalam kekebalan tubuh menjadi terganggu.

2. Agen kimia
Agen kimia yang dapat mengakibatkan imunosupresi adalah toksin atau racun jamur dan kandungan nutrisi yang kurang.
  • Mikotoksin
Mikotoksin atau racun jamur akan sangat mudah ditemukan saat kondisi lingkungan lembab, terutama saat musim penghujan. Selain itu ransum atau bahan baku ransum dengan kadar air yang tinggi akan memicu tumbuhnya jamur yang menghasilkan racun atau toksin. Jamur yang tumbuh pada ransum dan bahan baku ransum dapat dengan mudah dimatikan, namun tidak demikian dengan racun jamur yang terbentuk. Racun itu sangat sulit untuk dihilangkan.
Racun jamur yang terkonsumsi oleh ayam biasanya tidak langsung dikeluarkan dari tubuh, namun akan terakumulasi dan saat kadarnya telah mencapai titik tertentu (batas normal) maka ayam akan mulai menunjukkan gejala. Salah satunya ialah melemahnya sistem pertahanan tubuh ayam atau sering disebut imunosupresi. Imunosupresi yang disebabkan oleh mikotoksin bersifat kronis. Namun jika konsentrasi tinggi akan bersifat akut.
Imunosupresi merupakan gejala awal saat kadar mikotoksin relatif rendah, selanjutnya terjadi gangguan metabolisme, timbul gejala klinis dan akhirnya timbul kematian.
Dari sekitar 300 jenis mikotoksin yang telah terdeteksi dari 100.000 spesies jamur, setidaknya ada 4 jenis mikotoksin yang bersifat imunosupresi pada ayam, yaitu aflatoksin, ochratoksin, fumonisin dan trichothecenes (T2).
Aflatoksin dapat menyebabkan pengecilan bursa Fabricius, limpa maupun thymus. Aflatoksin juga dapat merusak sel limfosit B, mengganggu fungsi fagosit sel-sel fagositik serta menurunkan aktivitas fungsional dari komplemen. Ocratoksin mengakibatkan atropi thymus, menghambat fungsi fagositosis sel-sel heterofil fagositik dan menyebabkan penipisan sel limfosit T dan B. Atropi organ limfoid dan kerusakan makrofag juga diakibatkan oleh adanya fumonisin sedangkan trichothecenes mengakibatkan nekrose jaringan limfoid dan sumsum tulang belakang.
Jagung merupakan bahan baku ransum yang rentan terkontaminasi aflatoksin. Kadar aflatoksin di atas 50 pbb dapat menimbulkan efek imunosupresi. Pastikan kadar air jagung < 14% dan simpan pada tempat yang tidak lembab

  • Defisiensi nutrisi
Zat nutrisi yang terkandung dalam ransum, seperti energi, protein, vitamin dan mineral memiliki peranan penting dalam sistem kekebalan (imunitas). Protein sangat diperlukan untuk perkembangan organ limfoid. Bahkan beberapa asam amino memiliki peranan langsung terhadap sistem kekebalan. Contohnya metionin yang berperan meningkatkan aktivitas kerja thymus dan bursa Fabricius. Kekurangan metionin akan mengakibatkan ayam kekurangan sel darah putih dan ukuran bursa Fabricius menjadi lebih kecil dibandingkan ukuran normalnya. Ketersediaan lisin yang cukup dapat meningkatkan level Ig M dan Ig G yang menentukan level/titer antibodi. Selain itu lisin juga digunakan untuk memelihara sistem kekebalan dan sintesa imunoglobulin yang disekresikan lewat mukosa usus. Arginin dan sistin juga berperan dalam sistem kekebalan tubuh ayam.
Vitamin juga berperan sebagai kofaktor dalam alur proses pembentukan antibodi. Vitamin C berfungsi memelihara stabilitas membran sel leukosit dan mengoptimalkan aktivitas fagosit dari sel neutrofil. Vitamin yang spesifik berperan dalam sistem kekebalan yaitu vitamin A yang berperan menjaga fungsi normal membran mukosa dan perkembangan sel limfosit B; vitamin B6 berfungsi dalam perkembangan dan pemeli-haraan jaringan limfoid; vitamin D3 diperlukan untuk aktivitas makrofag dan level perlindungan cellular mediated immunity (CMI) dan vitamin E melindungi struktur lipoprotein membran sel dan ikut dalam proses pembentukan humoral mediated immunity (HMI) dan CMI.

  • Antibiotik over dosis
Beberapa antibiotik diduga bisa menyebabkan imunosupresi, diantaranya tetrasiklin, sulfonamid, penisilin, chlorampenicol dan streptomisin. Guna membuktikan hal tersebut Medion telah melakukan trial pengaruh pemberian Sulfamix (sulfadimetilpirimidin) dan Medoxy-L (oksitetrasiklin) terhadap pembentukan titer antibodi ND hasil vaksinasi menggunakan Medivac ND La Sota.
Sulfaix dan Medoxy-L yang diberikan sesuai dosis dan aturan pakai tidak akan mempengaruhi pembentukan titer antibodi (tidak imunosupresi)

Trial ini dilakukan pada ayam specific pathogen free (SPF) umur 9 minggu di kandang SPF. Obat diberikan secara suntikan intramuskuler selama 5 hari berturut-turut sebelum dilakukan vaksinasi ND. Dosis Sulfamix ialah 0,4 ml tiap kg berat badan, sedangkan Medoxy-L diberikan dengan dosis 0,75-1 ml tiap 1-1,5 kg berat badan ayam. Vaksinasi ND dilakukan secara suntikan intramuskuler dengan dosis 0,5 ml tiap ekor (1 dosis). Setelah vaksinasi dilakukan monitoring titer antibodi ND pada 7, 13, 21, 27 dan 34 hari setelah vaksinasi.
Grafik 1 menunjukkan pemberian Sulfamix dan Medoxy-L tidak menghambat pembentukan antibodi ND. Titer antibodi ND pada kelompok yang diberi Sulfamix dan Medoxy-L lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok yang tidak diobati dan divaksin. Pemberian obat sebelum vaksinasi ND akan mengurangi jumlah bibit penyakit yang terdapat dalam tubuh ayam sehingga saat divaksin ND reaksi pembentukan antibodinya menjadi lebih optimal.
3. Respon fisiologis
Ayam yang mengalami stres panas (heat stress) yang ditunjukkan ayam melakukan panting menjadi salah satu penyebab melemahnya sistem kekebalan tubuh sehingga lebih mudah terserang penyakit

Stres merupakan salah satu bentuk respon fisiologis yang bersifat imunosupresi. Stres dingin atau panas (heat stress), jumlah air minum yang terbatas, keramaian, pindah kandang, potong paruh maupun ventilasi yang buruk melalui beberapa mekanisme yang berbeda dapat menurunkan respon imun.
Saat stres tubuh ayam akan merespon dengan disekresikannya adeno corticotropin hormone (ACTH) oleh hipofisa anterior dalam jumlah yang berlebihan. Peningkatan kadar ACTH ini akan memicu korteks adrenalis untuk meningkatkan hormon kortisol sehingga mengakibatkan penurunan jumlah maupun perubahan jenis leukosit, yaitu sel eosinofil, basofil dan limfosit. Kondisi ini dapat diartikan saat stres sistem imun (kekebalan) mengalami gangguan.

Pencegahan dan Penanganan
Teknik yang tepat untuk mencegah dan menangani munculnya imunosupresi tergantung dari agen imunosupresannya. Namun pada intinya ialah menghilangkan atau menekan agen imunosupresan yang ada disekitar ayam, melalui :
  • Menerapkan konsep biosecurity secara ketat dan tepat. Lakukan desinfeksi kandang secara rutin, minimal sekali seminggu. Cuci tempat ransum dan air minum setiap hari dan lakukan desinfeksi setiap 3-4 hari dengan cara direndam dalam larutan Medisep selama 30 menit. Desinfeksi air minum dengan memakai Antisep, Neo Antisep atau Medisep
  • Terapkan tata laksana pemeliharaan yang baik. Pastikan kondisi kandang nyaman untuk ditempati ayam. Perhatikan kondisi ventilasi udara, suhu maupun kelembaban kandang. Atur kepadatan kandang dan pastikan distribusi dan jumlah tempat ransum dan air minum sesuai dengan populasi ayam
  • Lakukan vaksinasi sesuai dengan kasus penyakit yang menyerang. Sesuaikan waktu vaksinasi dengan waktu serangan penyakit. Berikan perhatian lebih pada penyakit-penyakit yang menimbulkan imunosupresi, seperti Gumboro (Medivac Gumboro A, Medivac Gumboro B atau Medivac Gumboro Emulsion). Perhatikan kualitas vaksin dan lakukan tata laksana vaksinasi secara tepat
Berikan Medivac Gumboro A jika serangan Gumboro terjadi pada umur 3 minggu dan jika serangan terjadi umur lebih dari 3 minggu berikan Medivac Gumboro A atau Medivac Gumboro B. Jika wabah disebabkan oleh virus Gumboro yang sangat ganas (kematian > 5%) gunakan Medivac Gumboro A

  • Sebelum vaksinasi, bisa diberikan obat. Hanya saja yang perlu diperhatikan ialah obat diberikan sesuai dosis dan aturan pakai
  • Berikan ransum dan air minum yang berkualitas. Pastikan ransum tidak menggumpal atau ditumbuhi jamur. Simpan ransum pada tempat yang tidak lembab dan berikan alas pada tumpukan ransum. Lakukan uji kualias secara rutin atau saat terjadi pergantian suplier. Berikan feed supplement dengan kandungan vitamin, mineral dan asam amino (Fortevit, Vita Stress) untuk mendukung stamina tubuh ayam tetap optimal
Saat terjadi serangan penyakit imunosupresi, beberapa hal yang dapat dilakukan :
  • Hilangkan atau tekan faktor yang menyebabkan imunosupresi
  • Berikan vitamin, elektrolit dan asam amino (Fortevit, Vita Stress, Vita Strong) untuk meningkatkan stamina tubuh ayam. Pada kasus Gumboro berikan air minum plus gula (2-5%) untuk meningkatkan stamina tubuh ayam
  • Jika diperlukan dapat diberikan obat untuk menekan adanya infeksi sekunder oleh bakteri. Hanya saja yang perlu kita ingat bersama, dosis dan aturan pakai pemberian obat harus disesuaikan dengan yang tertera di kemasan produk

Imunosupresi dapat menimbulkan kerugian yang besar, baik yang disebabkan oleh agen imunosupresan maupun agen penyakit lain yang menjadi lebih mudah menyerang ayam. Berikan perhatian yang lebih pada setiap faktor dan agen imunosupresi. Sukses selalu !!

Info Medion Edisi Juni 2008