SALAH PAHAM PEMAKAIAN OBAT HEWAN OLEH PRAKTISI KESEHATAN MANUSIA

Menarik sekali penjelasan oleh Drh Abadi Sutisna M.Si bahwa kesalahan terbesar tentang asumsi dan paradigma peranan Dokter Hewan pada aspek kesehatan dan kesejahteraan manusia. Sehingga akhirnya melahirkan mainstream atau pengarusutamaan pembangunan pertanian dalam hal ini kesehatan hewan di Indonesia.

Hal itu diungkapkan oleh Dewan Pakar ASOHI ini saat tampil dalam sebuah Workshop Nasional ”Relevansi Pembelajaran dan Kompetensi Dokter Hewan di Bidang Farmakoepidemiologi dalam Dunia Obat dan Pengobatan Hewan di Indonesia”. 

Acara yang diselenggarakan oleh Bagian Farmakologi FKH UGM Yogyakarta ini, menurut Ketua Panitia drh R Gagak D Satria MP MPd sebagai upaya untuk memberikan pemahaman bersama akan arti penting pengobatan pada hewan yang efektif dan efisien dengan konsep risk benefit ratio. Konsep ini sangat berbeda sekali dengan pengobatan pada manusia yang sama sekali tak mempertimbangkan aspek benefitnya.

Sedangkan Abadi dalam paparannya menjelaskan tentang asumsi dan paradigma masayarakat awam dan bahkan dari kalangan elit ilmiah bahwa peranan dan eksistensi  kedokteran hewan (Dokter Hewan) sebagai penunjang kesehatan dan kesejahteraan manusia. Padahal seharusnya dan memang pada kenyataannya bahwa kesehatan manusia sangat ditentukan oleh kecerdasan Dokter Hewan. 

Sebab jelas, Abadi, bahwa sebanyak 60% makanan manusia berasal dari hewan. Oleh karena itu menurutnya farmakologi veteriner sangat dan harus di dominasi oleh Dokter Hewan yang mengerti obat hewan. 

Jika selama ini ada suara miring tentang “Makan di gerai siap saji ayam goreng, adalah makan obat tetapi mendapat bonus daging atau telur ayam,” adalah tidak benar dan sangat menyesatkan. Menjadi lebih memprihatinkan sekali menurut Abadi, oleh karena  hal itu terlalu sering diungkapkan oleh para praktisi kesehatan manusia. 

Meski mereka yang bicara miring itu adalah para pakar kesehatan manusia, namun sesungguhnya mereka BUKAN pakar kesehatan hewan. Mereka sama sekali tidak mengerti ada aturan baku yang harus ditaati dan dijunjung tinggi oleh para Dokter Hewan, yaitu withdrawal time. Sangat berbeda sekali dengan dunia pengobatan pada manusia yang tak dikenal aturan itu, sehingga akhrinya mereka melemparkan pernyataan yang sungguh menyesatkan. 

Seperti yang diungkapkan oleh ahli peracik obat manusia yang juga Ketua Dewan Pakar Ikatan Farmakologi Indonesia (IKAFI) Prof dr Iwan Dwi Prahasto, M Med Sc PhD saat tampil sesi pertama.
Beruntung peserta seminar mendapatkan pencerahan dan koreksi yang begitu apik dan menarik dari Dewan Pakar ASOHI Drh Abadi Sutisna MSi. Dalam kesempatan itu dukungan dan penjelasan dari ketua Panitia Gagak D. Satria serta Drh Suhardi dari Kalbe Farma, sehingga setidaknya mengurangi rasa was-was dari peserta workshop yang hadir. 

Selanjutnya Abadi menguraikan bahwa Obat Hewan adalah obat yang digunakan pada hewan. Jika berpengaruh baik terhadap sel dalam tubuh hewan, maka itu artinya memang sebagai obat hewan. Akan tetapi jika zat itu diberikan memberikan efek buruk terhadap tubuh hewan, maka itu bernama Racun. Oleh karena itu dalam prinsip obat hewan, haruslah dikenal kaidah aman terhadap hewan itu sendiri dan juga aman untuk manusia. Selain itu, haruslah aman juga bagi lingkungan. 

“Itu kaidah baku dan harus ditaati oleh para produsen obat hewan. Sehingga dari kaidah itu, sudah jelas sekali bahwa obat hewan itu tak hanya aman untuk hewan saat posisinya sebagai zat penyembuh. Namun mutlak harus aman juga bagi manusia, bahkan lebih jauh lagi harus tidak mencemari dan merusak lingkungan. Dari hal ini, aspek mana lagi yang membuka ruang adanya pernyataan miring akan kandungan residu obat dalam daging dan telur ayam?” jelas Abadi sekaligus bertanya kepada hadirin.

Dalam tataran ideal, sudah dibuat aturan level yang tertinggi berupa UU No. 18/2009 juga Peraturan Menteri dan bahkan aturan teknis Pelaksanaan dari Organisasi yang berupa CPOHB. Menjadi lain masalahnya, jika dalam tataran implementasinya di lapangan ada pelanggaran dan penyelewengan. Maka sudah pasti pelanggaran itu akan berhadapan dengan sanksi dan hukum yang jelas.

Abadi juga menceritakan adanya tuduhan “ngawur” bahwa resistensi bakteri terhadap antibiotika pada manusia itu berasal dari dunia kedokteran hewan. Padahal, menurut Abadi, antibiotika yang digunakan pada hewan sangat berbeda dengan yang digunakan pada manusia. Juga tentang informasi keliru  penggunaan hormon pemacu pertumbuhan pada ternak, padahal harga hormon itu amatlah mahal dan secara ekonomis jelas akan merugikan peternak. Sehingga informasi itu jela salah dan pantas untuk diluruskan kembali.

Teknologi Pakan untuk Sapi Perah

Penulis:
Andang S Indartono | twitter: @andangindartono
Pengurus Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI)




   
Pakan merupakan komponen terbesar pada usaha peternakan. Biaya pakan yang dipengaruhi oleh inflasi dan kenaikan harga menjadi perhatian utama para pelaku usaha peternakan. Harga pakan konsentrat pada tahun 2010 rata-rata Rp. 1.800/Kg saat ini sudah lebih dari Rp. 2.500/Kg.

Tingginya harga bahan baku pakan mendorong perlunya strategi yang tepat untuk mencapai efisiensi dan efektivitas produksi ternak. Orientasi efisiensi dalam penggunaan pakan sangat terkait dengan kualitas dan kuantitas serta dampak terhadap performa ternak.

Kondisi ini mengarahkan para peternak dan industri peternakan untuk mencari dan menggunakan sumber-sumber bahan pakan yang murah serta penerapan inovasi teknologi tepat guna. Bentuk-bentuk praktis penerapan teknologi dalam industri pakan salah satunya adalah pengembangan additive dan supplement untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam menghasilkan pakan yang berkualitas yang mampu mendongkrak peningkatan produktivitas ternak.

Hal itu dibahas secara mendalam dalam Workshop AINI: Ruminant Feed Technology yang diselenggarakan Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan (AINI) di Bandung pada 22 Mei 2014 lalu. Narasumber yang hadir dalam acara itu yakni Sekjen AINI Prof Nahrowi, Pengajar Fakultas Peternakan IPB Prof Toto Toharmat, Pengajar dari Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran Dr. Ir. Didin S Tasripin, Nutritionis Trouw Nutrition Wira Wisnu Wardani, District Manager Elanco Animal Health Eka Rhamdani, dan perwakilan dari Direktorat Pakan, Ditjen Peternakan Dr Maradoli Hutasuhut.

Dalam workshop yang membahas secara khusus tentang nutrisi bagi ternak sapi perah tersebut, terungkap bahwa sapi perah baik yang berskala industri maupun usaha tani, kualitas pakan yang digunakan dalam kegiatan on farm sangat menentukan produktivitas dan kualitas susu yang dihasilkan.

Penyediaan pakan yang berkualitas pada kegiatan usaha peternakan sapi perah tidak saja pada aspek pemenuhan nutrisi dan pencapaian produktivitas yang efisien, tetapi juga harus memperhatikan kualitas produk susu, kesejahteraan ternak serta faktor residu yang mungkin timbul akibat penggunaan bahan-bahan pakan.

Problem laktasi sapi perah
Kecukupan bahan kering hijauan dan tingkat serat yang cukup, sangat diperlukan untuk mempertahankan kondisi rumen  sapi perah, sehingga produksi susunya berjalan normal. Oleh karena itu, sapi perah sebaiknya mendapatkan bahan kering hijauan 1.4% dari bobot hidup. Jumlah hijauan pada ransum sapi perah pun jangan kurang dari 0.80% dari bobot hidup.

Pemberian konsentrat yang berlebihan atau pemberian lemak, pati dan non struktural karbohidrat yang berlebih dalam ransum juga dapat menyebabkan gangguan fungsi rumen dan metabolisme sapi perah. Yang perlu diingat, pemberian konsentrat (termasuk sereal) tidak boleh diberikan lebih dari 2.5% dari bobot hidup. Bahan kering konsentrat hendaknya tidak melebihi 55-60% dari bahan kering ransum selama puncak produksi dan 40-50 % pada produksi susu rata-rata.

Waspadai juga akan terjadinya penurunan produksi susu yang bisa terjadi secara mendadak jika pemberian pakan kurang memadai pada periode kering atau setelah puncak laktasi. Penurunan produksi dapat terjadi akibat variasi tingkat pemberian konsentrat  dalam ransum melebihi 10-15%./