OBAT HEWAN ILEGAL, SIAPA YANG SALAH?

                 
                                                                 Oleh : Drh. Ida Lestari S. MSc. 
Belakangan ini ramai dibicarakan di media massa tentang peredaran obat ilegal yang merugikan konsumen pemakai, padahal dalam dunia obat hewan, kasus obat hewan ilegal sudah bukan merupakan permasalahan lagi, karena terkesan belum ada tangan yang cukup kuat untuk memperhatikan masalah ini secara lebih serius.

Pasal 39 Undang-undang no 18 tahun 2009, menyatakan bahwa, obat hewan adalah sediaan yang dapat digunakan untuk mengobati hewan, membebaskan gejala, atau memodifikasi proses kimia dalam tubuh yang meliputi sediaan biologik, pharmakopeutika, premiks dan sediaan alami.
 
Dalam peredaran obat hewan, Pemerintah Indonesia melalui Pe­raturan Pemerintah Republik Indonesia No 78 tahun 1992 tentang Obat  Hewan mewajibkan bagi semua obat hewan yang beredar sebelum digunakan di lapangan baik itu digunakan oleh para peternak maupun  perora­ngan, produksi luar maupun dalam negeri, harus telah diuji terlebih dahulu mutu/kualitasnya agar dapat memberi jaminan keamanan bagi para pengguna obat hewan tersebut.
 
Ketersediaan obat hewan bermutu merupakan jaminan bagi kesehatan hewan, sekaligus menopang peningkatan industri peternakan yang sa­ngat berperan dalam pengembangan agribisnis peternakan di Indonesia sehingga ketersediaan protein hewani akan lebih terjamin khususnya dalam menunjang program swasembada daging.
 
Dalam prakteknya, masyarakat sering tertipu dalam pemakaian obat hewan ilegal yang tidak diketahui kandungannya, dimana obat hewan ilegal tersebut kemungkinan mengandung sejumlah zat berbahaya bagi organ tubuh tertentu. Bahkan lebih banyak obat hewan ilegal itu merupakan barang selundupan yang sering tidak disertai cara pemakaiannya karena tidak menggunakan bahasa Indonesia.
 
Selain merugikan masyarakat pengguna yang kerap kurang mengerti bahaya penggunaan obat hewan ilegal, karena tidak ada jaminan Pemerintah dalam hal keamanan serta potensi obat hewan tersebut. Selain itu dengan adanya obat hewan ilegal, negara juga dirugikan karena mengurangi pendapatan negara untuk tarif pengujian maupun pajak bea masuk.
 
Sejak tahun 2004 hingga kini, setiap tahunnya, kurang lebih 400-an sertifikat lulus uji obat hewan diterbitkan oleh Laboratorium Penguji Mutu Obat Hewan yang pastinya obat hewan tersebut mendapatkan nomor registerasi, akan tetapi masih banyak obat hewan yang belum terdaftar yang dapat dikatagorikan obat hewan ilegal.
 
Obat hewan ilegal adalah obat hewan yang tidak terdaftar (tidak memiliki nomor registrasi) ataupun sudah terdaftar dan memiliki nomor re­gistrasi tetapi masa berlakunya telah habis. Sementara itu pemantauan obat hewan untuk menjamin kualitasnya telah dilakukan oleh laboratorium penguji mutu yang berwenang dan dinas terkait baik baik ditingkat Propinsi maupun Kabupaten, walaupun belum berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
 
Dalam dunia obat manusia, khususnya obat tradisional, kondisi krusial membuat semakin maraknya persediaan obat tradisional berbagai jenis dan merek, termasuk obat tradi­sional ilegal, dimana sudah seharusnya Pemerintah segera menerbitkan Pera­turan Pemerintah (PP) untuk me­ngatur hal tersebut karena konsumen adalah orang yang pertama terkena dampaknya.
 
Hal yang mirip diatas yaitu kejadian di USA, dimana para pejabat kesehatan AS mengkonfirmasikan pertama kali ditemukan adanya jamur mematikan dalam satu paket obat steroid yang digunakan dalam me­ngatasi rasa nyeri di punggung, yang tercemar jamur Exserohillum rostratum yang menyebabkan wabah meningitis dan menewaskan sedikitnya 20 orang hingga Kamis, 18 Oktober 2012.
 
Hingga kini ada beberapa SK Mentan / Peraturan Pemerintah atau Undang-undang yang berhubungan dengan Obat Hewan yang pernah diterbitkan antara lain: 

(1) PP Republik Indonesia No 78 tahun 1992 tentang Obat  Hewan; 
(2) SK Mentan RI No. 110/Kpts/OT.210/2/1993 tentang Pengujian Residu Obat Hewan dan Cemaran Mikroba; 
(3) SK Mentan RI No: 808/Kpts/OT.260/12/1994 tentang Syarat Pengawas dan Tata Cara Pengawasan Obat Hewan;
(4) SK Mentan RI No: 466/Kpts/OT.140/V/1999 tentang Pedoman Cara Pembuatan Obat Hewan Yang Baik;
(5) SK Mentan RI No:453/Kpts/TN.260/9/2000 tentang Obat Alami untuk Hewan;
(6) SK Mentan RI No: 456/Kpts/OT.140/9/2000 tentang Pembuatan, Penyediaan dan/atau Peredaran Obat Hewan oleh Lembaga Penelitian, Lembaga Pendidikan Tinggi dan Instansi Pemerintah; 
(7) Undang - Undang ReI  No 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Berdasarkan Undang-Undang RI No. 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Dalam pasal 52, ayat (2) dicantumkan bahwa, Setiap orang dilarang membuat, menyediakan, dan/atau mengedarkan obat hewan yang:
a.    Berupa sediaan biologik yang penyakitnya tidak ada di Indonesia
b.    Tidak memiliki nomor pendaf­taran
c.    Tidak diberi label dan tanda, dan
d.    Tidak memenuhi standar mutu

Bagi pelanggaran terhadap ketentuan tersebut telah dicantumkan KETENTUAN PIDANA, dalam pasal 91: “Setiap orang yang membuat, menyediakan, dan/atau mengedarkan obat hewan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (2) dipidana de­ngan pidana kurungan paling singkat (3) bulan dan paling lama 9 (sembilan) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 600.000.000,- (enam ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.800.000.000,00 (satu miliar delatan ratus juta rupiah)”
 
Dengan demikian jelaslah bahwa semestinya Pemerintah dalam hal ini para Pengawas Obat Hewan dapat melaksanakan tindakan penegakan hukum bagi setiap pelanggaran dibidang obat hewan.
 
Kendalanya adalah sebagian besar Pengawas Obat Hewan didaerah belum mendapatkan pelatihan sebagai “Penyidik Pegawai Negeri Sipil” (PPNS) sehingga belum memiliki kompetensi untuk memproses ke pengadilan (“pro justisia”).
 
Saat kondisi penyakit hewan yang sedang mewabah di lapangan, sering kali pengguna kurang berpikir rasional dalam pemilihan penggunaan obat. Sering kali mereka menggunakan obat hewan yang walaupun belum mengalami pengujian mutu di lembaga penguji mutu obat hewan. Yang ada pada benak mereka adalah bagaimana menyelamatkan hewan ternak mereka dengan menggunakan obat yang ”katanya” manjur padahal kandungan obat, cara pemakaian yang tidak diketahui karena leaflet bertuliskan bukan dalam bahasa Indonesia, dan terlebih penting belum diuji mutunya oleh lembaga yang berwenang di Indonesia sehingga tidak ada nomor registrasinya. Hasil yang kebanyakan terjadi di lapangan setelah penggunaan obat hewan ilegal itu adalah  ternak mereka banyak yang mati.
 
Dengan banyak beredarnya obat hewan ilegal di lapangan, siapa yang patut dipersalahkan? Apakah yang dipersalahkan adalah pengguna yang kurang mengerti obat hewan ilegal, baik perorangan maupun importir nakal yang memasukkan secara ilegal untuk meraup untung ditengah kepusingan para peternak dalam me­ngatasi wabah penyakit karena tidak perlu bayar bea masuk dan tidak perlu menunggu pengujian mutu obat.
 
Hingga kini, Kementerian Pertanian belum memiliki bidang atau direktorat penyidikan dan penindakan yang berhubungan dengan obat hewan ilegal, mengingat banyak obat hewan yang tidak terdaftar beredar di lapangan maupun perangkat lunak yang mengatur obat hewan ilegal tersebut.
 
Dengan adanya dukungan perangkat lunak seperti landasan hukum (Peraturan Pemerintah) yang mantap diharapkan dapat melindungi masyarakat khususnya peternak kecil dalam menggunakan obat hewan yang baik dan bermutu. (Infovet Des 12)

Analisa PINSAR: Panic Selling Peternak Ayam Broiler Jawa Tengah Dan Jawa Timur

Analisis PINSAR edisi Senin, 1 September 2014
Selamat Siang Peternak Ayam Broiler
TOPIK:
Panic Selling Peternak Ayam Broiler Jawa Tengah Dan Jawa Timur
Selamat siang sahabat-sahabat peternak ayam broiler (mandiri dan kemitraan) Jawa Tengah dan Jawa Timur, izinkan kami sekedar berdiskusi di sisi suplai.
Poin-poin:
1. Data menyatakan bahwa selama bulan puasa (Juli 2014) suplai DOC berkurang sangat banyak (mencapai > 30 %), sehingga panen ayam minggu lalu bisa mencapai harga > Rp 20.000,-
2. Panen ayam di Jawa sekitar umur 35 hari, artinya minggu kemarin di Jawa panen ayam yang chick-in antara tanggal 21-25 Juli 2014.
3. Lebaran tanggal 28-29 Juli 2014 DOC tidak menetas, tetasan 31 Juli-1 Agustus 2014 hanya sesuai pesanan, bisa dipastikan suplai ayam besar di Jawa Tengah – Jawa Timur juga akan berkurang lebih dari 50% di minggu ini dan seterusnya suplai cukup sedikit karena suplai DOC selama 1-29 Agustus 2014 juga cukup sedikit (diindikasikan dengan harga DOC yang meroket di pasaran).
4. Mari kita bersama menghitung jumlah suplai ayam di kandang masing-masing. Semoga harga bisa di atas HPP sampai awal Oktober 2014, bisa kita jaga bersama. Hentikan panic selling (penjualan banting harga). Mohon bantuannya untuk menyebarluaskan info ini ke sesama peternak (khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur). Ikuti terus perkembangan harga harian di www.arboge,com yang selalu diperbaharui. Silahkan berikan masukan dan koreksi atas data di atas. Feedback Anda akan sangat berharga bagi kita semua.

Kenali Penyebab Turunnya Produksi Telur

Kenali Penyebab Turunnya Produksi Telur

(( Dengan mengetahui faktor-faktor penyebab turunnya produksi telur, diharapkan peternak dapat mengambil tindakan antisipasi agar ayam telur yang dipeliharanya menghasilkan telur sesuai kurva produksi standar.))

Naiknya harga berbagai input produksi ayam petelur seperti misalnya pakan, bibit DOC, listrik, transport dan sebagainya telah mendorong usaha peternakan untuk berproduksi lebih efisien guna mendapatkan hasil yang optimal. Guna mencegah kerugian dan mengoptimalkan ongkos produksi tak lain produktivitas ternak harus ditingkatkan atau paling tidak dijaga jangan sampai turun produksinya.
Pertanyaan yang sering diajukan oleh peternak adalah “Mengapa produksi telur ayam saya menurun?” Jawaban pertanyaan ini ternyata tidak semudah yang diduga. Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan produksi telur yang turun, yaitu: kualitas telur itu sendiri, mutu bibit, kecukupan nutrisi, kesehatan ayam, kondisi lingkungan, dan tatalaksana pemeliharaan.
Agar produksi telur mencapai optimal maka harus disertai dengan konsumsi ransum yang cukup. Nafsu makan yang turun dapat menghasilkan berat telur yang rendah. Produksi telur tidak hanya bergantung pada berat badan yang tercapai saat memulai produksi telur, tetapi juga pada perkembangan saluran pencernaan dan reproduksi.

Lebih Akrab dengan Penyebabnya
Permasalahan yang sering dialami peternak adalah produksi telur rendah atau penurunan produksi telur secara tiba-tiba. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, banyak faktor yang dapat menyebabkan produksi telur turun dan seringkali faktor-faktor tersebut terkait satu sama lain. Faktor-faktor tersebut dapat berpengaruh terhadap ukuran dan kualitas telur.
Penyebab umum menurunnya produksi telur meliputi: kurangnya lama penyinaran, nutrisi tidak cukup, penyakit, dan umur yang semakin tua dan stres.
Kualitas ransum yang jelek, nutrisinya kurang atau tidak seimbang dengan ransum, mengandung zat racun dapat menyebabkan penurunan produksi telur. Kadar protein, energi, dan kalsium sangat perlu diperhatikan. Selain itu, jika ayam tidak cukup memperoleh air minum, penurunan produksi juga terjadi.
Kurangnya lama penyinaran tidak akan merangsang hormon reproduksi agar ayam mulai bertelur. Suhu terlalu panas akan mengurangi konsumsi nutrisi dari ransum yang diperlukan untuk pembentukan telur.
Ventilasi yang jelek akan meningkatkan kadar amonia. Kandang terlalu padat serta umur ayam semakin tua juga mempengaruhi produksi telur. Penyakit seperti EDS, ND, IB, dll juga dapat menurunkan produksi telur.

Lama Pencahayaan
Ayam petelur membutuhkan lama pencahayaan selama 16 jam untuk mempertahankan produksi telur, sedangkan lama pencahayaan alami dari sinar matahari biasanya berlangsung hanya selama 12 jam Jika lama pencahayaan kurang, maka produksi telur akan turun dan bahkan bisa sampai berhenti. Kekurangan lama pencahayaan seringkali menyebabkan rontok bulu dan ayam berhenti bertelur selama sekitar dua bulan. Untuk mengatasi hal ini, berikan cahaya tambahan untuk meningkatkan lama pencahayaan tetap konstan 16 jam per hari. Penambahan cahaya cukup 3 watt tiap m2 luas kandang. Penambahan cahaya dilakukan secara bertahap. Salah satu program pencahayaan adalah dengan menaikkan lama pencahayaan 1 jam tiap 2 minggu sehingga pada umur 28 minggu ayam sudah mendapat cahaya tambahan selama 4 jam semalam.

Nutrisi yang Seimbang
Ayam telur membutuhkan ransum dengan nutnsi seimbang untuk mempertahankan produksi telur selama masa produksi. Nutrisi yang tidak tepat dapat menyebabkan ayam berhenti bertelur.
Masalah yang sering terjadi adalah tidak tersedianya air minum yang bersih dan segar. Ayam tanpa air minum hanya selama beberapa jam dapat berhenti bertelur sampai berminggu-minggu. Oleh karena itu, sediakan tempat minum dalam jumlah cukup sehingga ayam selalu memperoleh air minum yang segar.
Kadar energi, protein, atau kalsium yang tidak cukup juga dapat menurunkan produksi telur. Sangat penting menyediakan ransum mengandung nutrisi seimbang pada masa produksi dengan kadar protein 16-18%. Namun nutrisi dalam ransum seringkali rusak akibat penanganan dan penyimpanan yang kurang tepat. Dua jenis asam arnino penting yaitu methionine dan lysine perlu ditambahkan dalam ransum karena ransum seringkali kekurangan asam amino tersebut. Bila mutu ransum kurang baik, tambahkan premiks untuk rneningkatkan mutu ransum.
Ayam telur dapat menghasilkan sekitar 300-325 butir telur tiap tahun sehingga membutuhkan kalsium sebanyak 20 kali jumlah kalsiurn yang ada di dalam tulangnya. Dibutuhkan 25 mg kalsium tiap menit untuk membentuk kerabang telur. Kebutuhan vitamin D perlu tercukupi agar penyerapan kalsium dan fosfor berlangsung baik. Pemberian mineral feed supplement dapat membantu memperkuat kerabang telur.
Selain penyinaran tambahan, nutrisi dan ransum ayam masa produksi juga memerlukan vitamin tambahan. Vitamin tambahan diperlukan karena vitamin juga terbawa bersama dengan keluarnya telur dari tubuh ayam. Selain itu. akibat perubahan cuaca atau susunan ransum, ayam memerlukan vitamin tambahan untuk mencegah stres. Agar dapat mencapai tingkat produksi telur yang maksimal. Diperlukan Egg Stimulant. Egg Stimulant berguna untuk mempercepat tercapainya produksi telur yang maksimal sekaligus mempertahankan produksi telur tetap tinggi.

Lelah Kandang
Lelah kandang (disebut juga cage layer fatigue atau osteoporosis) sering terjadi pada ayam telur yang dipelihara dalam kandang baterai. Namun lelah kandang juga dapat terjadi pada ayam yang dipelihara dengan lantai litter akibat ketidakcukupan kalsium, fosfor dan atau vitamin D.
Pembentukan kerabang telur membutuhkan kalsium dalam jumlah banyak, dan dipenuhi melalui penyerapan kalsium dari tulang. Normalnya, kalsium tersebut akan diganti dari kalsium dalam ransum. Namun pada saat terjadi kekurangan kalsium, fosfor, dan atau vitamin.D, penggantian kalsium ini, tidak berlangsung dengan baik. Akibatnya tulang menjadi keropos. Kondisi ini diperparah dengan perkembangan kerangka kurang optimal pada ayam telur yang dipelihara dalam kandang baterai karena kurangnya pergerakan.
Ayam yang mengalami lelah kandang berarti kekurangan kalsium dalam tulang dan akan segera menghentikan produksinya. Gejala-gejaia lelah kandang meliputi kelumpuhan, patah tulang, bentuk tulang berubah. dan kerabang telur retak. Untuk mencegah lelah kandang, berikan vitamin dan mineral feed suplement.

Penyakit
Serangan penyakit masih dapat terjadi meskipun ayam dalam kondisi terbaik. Penurunan produksi telur seringkali merupakan salah satu gejala awal adanya serangan penyakit. Gejala lainnya dapat berupa lesu dan bulu kusam, mata berair, keluar ingus dari hidung, batuk, rontok bulu, pincang, sampai kematian. Jika peternak rnelihat seekor ayam sakit, lakukan isolasi atau pengafkiran dan amati keseluruhan populasi secara teliti. Jika curiga ada serangan penyakit, segera hubungi dokter hewan setempat agar dapat membantu memeriksa sehingga diperoleh diagnosa dan pengobatan yang akurat.
Pada umumnya, saat ayam terkena penyakit apapun, maka produksi telur akan terganggu. Penyakit yang secara langsung dapat menyebabkan penurunan produksi telur. di antaranya adalah: EDS, ND, IB, CRD dan colibacillosis. Penyakit ND dan IB menurunkan kualitas kerabang dan bagian dalam telur. EDS menyebabkan kerabang telur sangat tipis sehingga telur mudah pecah, sedangkan ND dan IB dapat merusak saluran produksi.
Ayam yang terserang EDS tetap tampak sehat, tidak memperlihatkan gejala sakit tetapi terdapat penurunan produksi secara drastis disertai penurunan kualitas telur. Produksi telur turun sebesar 20-40% selama 10 minggu. Untuk mencegah EDS, lakukan vaksinasi pada umur 16-18 minggu bisa dengan vaksin kombinasi.
Penyakit ND dapat menyebabkan produksi telur turun diikuti penurunan kualitas telur, yaitu kerabang telur menjadi tipis dan kadang-kadang ditemukan telur tanpa kerabang. Produksi telur dapat mendekati produksi normal setelah 3-4 minggu, tetapi kebanyakan tidak pernah kembali normal.
Untuk mencegah ND, lakukan vaksinasi ND secara teratur. Selama program vaksinasi, berikan vitamin selama 2 hari sebelum dan sesudah vaksinasi untuk mencegah stres.
Penyakit utama yang menyebabkan produksi telur turun secara drastis adalah IB. Virus IB (corona virus) menyerang membran mukosa saluran pernapasan dan reproduksi. Jika menyerang ayam muda maka kerusakan saluran reproduksi akan bersifat permanen.
Sejumlah strain virus IB juga menyebabkan gangguan pada ginjal. Akibatnya tidak hanya kualitas kerabang telur terganggu namun juga bagian dalam telur. Putih telur (albumin) menjadi seperti cairan bening (transparan). Bentuk kerabang telur menjadi tidak normal. Selain itu, warna coklat pada kerabang telur coklat akan memudar. Pada telur dapat pula ditemukan gumpalan kecil darah yang disebut blood spot. Untuk mencegahnya, lakukan vaksinasi IB pada umur 4 hari dan diulangi pada umur 19-21 hari dengan vaksin tunggal atau kombinasi. Vaksinasi selanjutnya dilakukan pada umur 8 minggu kemudian diulang tiap 3 bulan.
Sampai saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit EDS, ND, dan IB. Hanya dengan strategi vaksinasi yang tepat dan diimbangi dengan pelaksanaan tatalaksana pemeliharaan yang benar, niscaya ketiga penyakit tersebut dapat dihindari.
CRD dan colibacillosis merupakan penyakit yang hampir selalu ada di peternakan, Baik CRD maupun colibacillosis juga dapat mengganggu produksi telur. CRD dapat mengganggu proses pernapasan ayam sehingga suplai oksigen ke dalam tubuh ayam akan berkurang. Hal tersebut akan berpengaruh pada kesehatan dan metabolisme dan berakibat pada penurunan produksi telur. Colibacillosis dapat menginfeksi saluran telur maupun calon telur.

Umur Ayam
Umur yang semakin tua dapat berpengaruh pada produksi telur. Pengaruh ini sangat bervariasi di antara individu ayam. Ayam dapat berproduksi secara efisien selama dua siklus masa bertelur. Setelah dua atau tiga tahun, produktivitas akan menurun. Secara umum, produksi telur paling baik selama tahun pertama, namun ayam telur yang berproduksi tinggi dapat berproduksi cukup baik selama 2-3 tahun. Kondisi ini berbeda pada setiap strain ayam. Ayam telur yang berproduksi tinggi akan bertelur selama sekitar 50-60 minggu tiap siklus masa bertelur. Di antara siklus produksi telur akan disela dengan masa istirahat yaitu rontok bulu (molting). Afkir ayam telur yang produksi telurnya sudah tidak ekonomis lagi.
Rontok bulu adalah proses alami sebagai cara unggas memperbaharui bulunya. Selain sebagai tanda berhentinya produksi telur, rontok bulu juga dapat terjadi kapan pun terutama saat ayam mengalami stres berat. Kasus rontok bulu yang cepat pada seluruh populasi biasanya merupakan gejala bahwa telah terjadi sesuatu yang serius (misalnya: kekurangan air minum atau sangat kedinginan).

Stres
Stres dapat menyebabkan turunnya produksi telur. Agar produksi telur tidak turun, berikan multivitamin selama 5 hari berturut-turut.
Stres yang biasa terjadi meliputi:
1. Kedinginan
Stres yang paling sering selama musim hujan adalah kedinginan. Pastikan ayam mendapat perlindungan dari angin dan hujan selama musim hujan namun jangan sampai menutup terlalu rapat sehingga menyebabkan tingginya kadar amonia. Jika tercium bau amonia, inilah saatnya meningkatkan lubang udara di dalam kandang. Ayam tidak dapat bertahan dalam kondisi lembab dan terlalu banyak angin.
2. Kepanasan
Dalam cuaca panas, ayam akan lebih banyak minum dan mengurangi konsumsi ransum sehingga kebutuhan nutrisi tidak terpenuhi. Kondisi ini dapat menyebabkan produksi telur turun karena kebutuhan energi dan protein harian tidak tercukupi. Dalam kondisi lingkungan panas, fisiologi tubuh ayam akan mengubah prioritasnya dari semula untuk produksi telur menjadi untuk bertahan hidup. Oleh sebab itu, saat cuaca panas perlu tambahan vitamin supaya produksi telur tidak terganggu.
3. Penangkapan dan pemindahan
Batasi pemindahan atau penangkapan yang tidak perlu. Populasi yang terlalu padat dapat meningkatkan kanibalisme dan akhirnya stres pada ayam.
4. Parasit
Jika ada parasit eksternal dan internal, berikan pengobatan yang sesuai.
5. Ketakutan
Batasi suara ribut orang-orang dan suara kendaraan di sekitar kandang untuk mencegah ayam ketakutan.

Sebagai kesimpulan, produksi telur yang turun dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Mulai dari mutu ransum, tatalaksana pemeliharaan, sampai adanya serangan penyakit dapat menurunkan produksi telur.
Perlindungan terbaik terhadap penyakit diawali dengan membeli DOC atau pullet yang sehat. Hindari pelihara ayam dengan umur yang tidak seragam. Kontrol terhadap lama penyinaran dan berat badan pada ayam pullet sangat menentukan permulaan produksi telur. (inf/bbs)


MASALAH KEMUNGKINAN PENYEBAB
Produksi telur tiba-tiba turun. Stres karena bermacam-macam sebab seperti potong paruh, setelah pemberian obat cacing, penggantian ransum, setelah vaksinasi.
Ransum bermutu jelek.
Ayam terserang penyakit.
Produksi dan mutu telur turun. Ayam terserang penyakit seperti EDS ‘76, IB, pullorum atau ND.
Produksi telur turun tetapi mutu telur tidak turun. Ayam terserang penyakit AE.
Ayam sedang dalam pergantian bulu (rontok bulu).
Ayam stres karena berbagai hal.
Ayam kekurangan air minum, tempat minum banyak yang kosong.
Tempat air minum letaknya terlalu rendah atau tinggi.
Pencahayaan tidak tepat.

MUSIM PERALIHAN, ANGIN KENCANG dan VITAMIN

(( Langkah yang lain adalah secara sistematis memperhatikan program yang sudah jalan dan mempersiapkan secara lebih dini stock multivitamin untuk menghadapi udara panas. Tersedianya stock multivitamin menjadi penting, agar gangguan performans ayam tidak terganggu. ))

Sedikitnya sebanyak 7 kandang ayam potong dan petelur di berbagai daerah di Pulau Jawa roboh dan rusak. Menurut informasi dan laporan Tim Pemantau Lapangan Infovet di Sukabumi,Banyumas, Semarang, Yogyakarta, Solo dan Blitar sejumlah kandang rusak ringan sampai berat, bahkan di Banyumas dan Semarang 2 buah kandang roboh.
Meninggalkan bulan April khususnya pada bulan Mei dan memasuki Juni-Juli 2008 ini, ada fenomena alam yang patut mendapatkan perhatian masyarakat dan khususnya para peternak unggas.
Perhatian itu menjadi penting oleh karena mengingat sebagai suatu kesatuan dari siklus musim di negara tropis, maka sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim kering atau kemarau pada kisaran Mei tahun ini.
Namun pada kenyataanya pada Juni tahun ini masih saja ada sebagian wilayah di Indonesia, seperti Kalimantan dan sebagian Sulawesi masih saja didera banjir karena hujan dengan intensitas tinggi. Diperburuk dengan gundulnya hutan, maka banjir besar melanda sebagian dari dua pulau itu.
Hujan tahun ini, yang termasuk dalam kategori intensitas tinggi dan panjang waktunya (6-7 bulan), ternyata telah menimbulkan aneka bencana aIam di negeri ini. Menurut informasi dari berbagai lembaga pemantau iklim di dunia, yang dapat kita akses dari internet, maka musim kering di Indonesia kali ini diperkirakan akan berjalan lebih pendek dari pada musim hujan.
Artinya anomali musim kali ini, bukan saja akan berpengaruh terhadap aneka sektor kehidupan akan tetapi juga sudah pasti adanya kemungkinan dampak buruk. Tentunya bidang peternakan akan kena imbasnya juga
Sangat berbeda dari musim-musim kemarau sebelumnya, yang umumnya di Indonesia jauh lebih panjang waktunya di banding musim penghujan, ternyata musim kemarau tahun 2008 ini jauh lebih pendek. Sehinga ada fenomena alam yang pasti berbeda dari pada tahun-tahun sebelumnya. Atas dasar kondisi demikian para peternak unggas dituntut untuk lebih waspada dan mutlak perlu mengantisipas segala sesuatu kemungkinan yang bisa muncul dan sanggat merugikan.
Secara kebetulan ada artikel wawancara pada sebuah koran nasional yang mengupas tentang musim peralihan. Dan jika dikaitkan dengan aktifitas dunia perunggasan berita itu menjadi menarik dan sangat relevan. Mengapa menarik dan relevan? Oleh karena ada peringatan akan datangnya angin kencang yang berputar dan suhu udara yang lebih panas tetapi justru lamanya musim kemarau jauh lebih pendek dari tahun sebelumnya.
Pada 22 April 2008 dipaparkan hasil wawancara dengan pakar iklim dari Universitas Gadjah Mada Yogyakakarta Dr Ir Sunarto. Sang Pakar berujar, bahwa kemungkinan terbesar adanya potensi ”angin kencang berputar” atau ’puting beliung’ pada musim peralihan ini di kawasan sebagian besar Indonesia.
Beberapa kawasan yang lokasinya berada pada lembah diantara pegunungan yang mengapit, akan sangat besar potensi munculnya angin kencang berputar yang dapat mengancam pemukiman penduduk yang berada di kawasan itu. Sunarto yang juga Kepala Pusat Studi Bencana Alam UGM Yogyakarta itu, wanti-wanti atau mengingatkan dengan penuh sangat, agar warga mengantisipasi dampak dari fenomena alami itu.
Atas dasar peringatan itu, maka beberapa kawasan yang kemungkinan muncul fenomena alam itu dan terkait dengan lokasi kawasan perunggasan dapat disebut mulai dari Aceh sisi timur, Sumut sisi timur dan selatan, kemudian Sumbar sisi selatan termasuk Riau daratan.
Selain itu Lampung selatan, Sukabumi, Cianjur, Tasikmalaya, Ciamis, Banyumas, Bantul, Kulon Progo, Sleman Magetan, Madiun Blitar dan Malang, Jember, Jombang. Daerah yang disebut diatas memang kantung-kantung perunggasan. Atau sebut saja sebagai sentra kandang ayam potong maupun petelur.
Peringatan itu menjadi penting, oleh karena harus kita akui akurasi prediksi dari Badan Meteorologidan Geofisika (BMG) Indonesia saat ini sudah semakin baik oleh karena dukungan peralatan dan SDM serta koneksi dengan negara-negara maju.
Mengingat usaha perunggasan yang padat modal dan teknologi itu, maka sudah selayaknya kini para peternak juga mempertimbangkan dengan seksama informasi tentang musim.
Kembali pada paparan Sunarto, bahwa cuaca pada musim peralihan akan bersifat labil. Artinya sangat mudah sekali berubah-ubah secara drastis. Cuaca yang semula mendung hitam seperti hendak turun hujan, dengan cepat akan menjadi cerah, terang benderang, dan bahkan suhu udara akan menjadi panas menyengat.
Hal ini, berakibat air yang berada di dalam tanah akan panas. Sehingga penguapan air di dalam tanah itu tinggi, sehingga kemudian akan kita rasakan udara panas atau gerah yang sangat. ”Dari atas bumi kita menerima panas sinar matahari, sedangkan dari bawah tanah terjadi penguapan air. Bumi tempat kita berpijak akhirnya menjadi sangat panas udararanya.
Dari peringatan yang diungkapkan di atas, ada 3 (tiga) hal yang patut mendapat perhatian ekstra dari para peternak unggas di Indonesia. Pertama, potensi angin kencang berputar, atau umum menyebut sebagai puting beliung akan muncul dan dapat mengancam bangunan kandang.
Kedua, suhu udara yang meningkat akan berpengaruh besar terhadap performans ayam secara umum, jika tidak ada upaya antisipasif.
Ketiga, mengingat hampir sebagian besar lokasi kandang ayam komersial maupun pembibitan berada di kawasan yang termasuk katagori rawan terjangan angin kencang dan juga udara panas,maka peringatan itu tidak bisa dianggap sepele.
Langkah antisipasi antara lain dengan memeriksa kembali konstruksi bangunan kandang dan pergudangan. Teruatama tiang penyangga bangunan dan atap penutupnya. Pohon-pohonan yang rentan roboh harus dipangkas cabang dan rantingnya. Tirai penutup sisi kandang harus diamati apakah masih layak dan mampu berfungsi.
Kemudian selain itu perlu memeriksa sumber mata air agar tidak terjadi defisit air dalam memasuki kemarau ini, meski diperkirakan lebih pendek. Langkah yang lain adalah secara sistematis memperhatikan program yang sudah jalan dan mempersiapkan secara lebih dini stock multivitamin untuk menghadapi udara panas. Tersedianya stock multivitamin menjadi penting, agar gangguan performans ayam tidak terganggu.
Selain itu sudah pasti bisa ditebak, pada ayam petelur dimana produksi jagung dan katul akan mengalami masalah. Prediksi panen jagung memang masih belum mengkhawatirkan,karena kemungkinan besar terjadi panen raya. Akan tetapi panen raya padi mungkin sedikit mengalami penurunan. Akibatnya harga katul akan terdongkrak.
Dengan paparan situasi musim peralihan memasuki musim kemarau di atas seyogianya semua stake holder peternakan mengambil langkah antisipasif sesuai dengan kompetensi kegiatannya masing-masing. Dengan demikian, harapan terwujudnya usaha perunggasan yang kokoh dan mandiri akan terwujud. Semoga. (iyo/KT)

STRES PANAS JUGA TURUNKAN IMUNITAS


STRES PANAS JUGA TURUNKAN IMUNITAS


(( Berparameter perbedaan produksi dan daya tahan tubuh ayam, semua produksi dipengarui oleh stres panas. ))

Panas karena sengatan sinar matahari, sering membuat diri kita gerah dan mendorong kita untuk berteduh sekaligus mengonsumsi lebih banyak air minum. Saat cuaca yang panas konsentarsi kita sering terganggu. Bagaimana jika ayam yang ada di kandang mengalami stres karena panas?
Masyaly dkk (2004) dari Mesir dalam sebuah penelitiannya mengatakan bahwa ternyata stres, karena panas yang dialami oleh ayam tidak hanya menurunkan penampilan dari ayam tapi juga menurunkan daya tahan tubuh ayam yang dapat diamati dari banyaknya ayam yang mati akibat stres karena panas ini.
Penelitian ini menggunakan 180 ayam petelur yang sedang berada pada puncak produksi, dengan umur ayam 31 minggu. Di mana ayam diletakkan pada lima belas kandang dengan masing-masing kandang berisi empat ekor ayam, dengan masing-masing kandang akan menerima satu dari tiga perlakuan.
Tiga perlakuan itu adalah kontrol (temperatur rata-rata serta kelembaban relatif), siklus (siklus temperatur harian dan kelembaban), dan Stres Panas (kelembaban dan panas yang konstan) selama lima minggu. Parameter yang diamati adalah perbedaan produksi dan daya tahan tubuh ayam.
Kelompok kontrol diperlakukan dengan pengaturan suhu sebesar 23,9°C, kelembaban 50 persen dengan indek panas sebesar 25°C, yang mewakili indeks panas rata-rata pada musim yang berbeda-beda.
Kelompok siklus diperlakukan dengan memberi temperatur dan kelembaban yang berubah setiap hari, yaitu dengan suhu antara 23,9°C sampai 35°C, dan kelembaban antara 50% sampai 15%, yang mewakili siklus secara alami pada saat musim panas.
Dan kelompok ketiga adalah stres panas dipaparkan dengan suhu 35°C, dengan kelembaban 50 persen, dengan indeks panas 41,1°C yang mewakili kondisi stres panas.

Produksi

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semua produksi dipengarui oleh stres panas, dengan rata-rata berat badan lima minggu masa penelitian sebesar 1,528g, 1,414g dan 1,233 g masing-masing dari grup konntrol, siklus dan stres panas.
Menurut Masyaly penurunan berat badan dan penampilan yang lain dari ayam yang ada pada kelompok stres panas pada penelitian ini disebabkan oleh berkurangnya konsumsi pakan oleh ayam.
Pada penelitian ini penurunan feed intake sebanding dengan tingginya dan panjangnya paparan stres panas, ayam yang ada pada kelompok stres panas mengalami penurunan jumlah konsumsi pakan secara signifikan bila dibandingkan dengan kelompok siklus, dan lebih signifikan pula bila dibandingkan dengan kelompok kontrol.
Penurunan konsumsi pakan ini adalah sebagai respon dari stres panas. Dan lebih jauh lagi dari sekedar penurunan berat badan dan konsumsi pakan adalah adanya peningkatan jumlah kematian.
Kematian dari kelompok stres panas sebesar 31,7 persen,yang lebih tinggi dari kelompok siklus maupun kontrol yaitu masing-masing 6,7 dan 5 persen. Menurut Masyaly peningkatan angka kematian ini mengarah pada hambatan respon ketahanan tubuh.
Sementara itu produksi telur perhari juga mengalami penurunan jika dibandingkan dengan siklus maupun kontrol. Penurunan produksi ini disebabkan karena adanya penuruanan konsumsi pakan, serta adanya pengurangan nutrisi yang dipergunakan untuk memproduksi telur.
Selain itu stres panas juga menurunkan daya cerna ayam terhadap komponen pakan, lebih jauh lagi pemaparan pada suhu yang tinggi akan mengurangi konsentrasi protein plasma dan kalsium plasma padahal keduanya sangat dibutuhkan untuk membentuk telur.
Dalam penelitian ini juga terungkap bahwa pemaparan ayam terhadap suhu yang tinggi ternyata memberi hasil penuruanan kualitas telur, yaitu berat telur, berat cangkang dan ketebalan cangkang.
Berat telur yang ada pada kamar stres panas lebih rendah bila dibandingkan dengan siklis, dan siklis lebih rendah bila dibandingkan dengan kontrol, hasil ini mengarah pada rendahnya konsumsi pakan.
Dan ketebalan cangkang lebih tipis bila dibandingkan dengan siklus dan kontrol, rendahnya ketebalan cangkang ini disebabkan oleh rendahnya kalsium plasma. Akhirnya ayam yang terletak pada kandang dengan stres panas pada umumnya mempunyai Huge Unite (HU) lebih besar bila dibandingkan dengan siklus maupun kontrol.

Ketahanan Tubuh

Hasil penelitian ini tidak menunjukkan proliferasi sel B dan sel T secara signifikan yang dipengaruhi stres panas, hal ini disebabkan karena adanya hambatan sintesisi limfosit T dan B, dan adanya tekanan pada aktivitas phagositosis dari darah putih.
Lebih jauh lagi totol sel darah putih dari kelompok stres panas, setelah terpapar selam empat minggu, lebih rendah bila dibandingkan dengan kelompok kontrol dan sangat signifikan lebih rendah bila dibandingkan dengan siklus. Hasil ini menunjukkan bahwa stres panas dapat mengurangi jumlah serta aktivitas dari sel darah putih.
Akhirnya humoral imunity dari ayam yang ada pada kelompok stres panas ternyata tertekan, bila dibandingkan dengan kelompok siklus maupun kontrol. Penelitian ini menemukan bahwa ayam yang berada pada kelompok stres panas satu sampai empat minggu setelah pemaparan panas, mempunyai titer antibodi yang lebih rendah bila dibandingkan dengan kelompok siklus maupun kontrol.
Penurunan ini disebabkan oleh adanya pembengkakan cytokin pada saat terjadi stres, yang mempengarui stimulasi hipotalamus untuk memproduksi corticotropin releasing factor (CRF).
CRF ini adalah berfungsi untuk meningkatkan hormon adrenocorticotropic, di mana hormon ini akan merangsang produksi corticosteron dari adrenal gland. Corticosteron lalu akan menghambat produksi antibodi.
Dan lebih jauh diketahui bahwa stres panas ternyata akan menurunkan kerja T-helper 2 cytokin, yang penting untuk produksi antibodi.

(Drh Ma’shum, alumnus FKH Unair Surabaya)